Sunday, 9 October 2016

Bagaimana Bila Korban KDRT Tidak Mau Melapor? Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Assalaamu'alaikum...!


Sebelumnya saya minta maaf jika saya menggunakan tema Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sebagai salah satu bahan postingan saya kali ini. Tema ini saya gunakan semata-mata karena saya ikut prihatin terhadap semua orang yang mendapatkan perilaku sangat tidak menyenangkan seperti kekerasan fisik, seksual bahkan kekerasan psikologis dari salah satu anggota keluarganya. Entahlah, saya menjadi tertarik menulis pendapat saya tentang KDRT setelah membaca postingannya Kak Alaika Abdullah tanggal 5 Oktober 2016. Dimana di postingan tersebut, Kak Alaika menceritakan tentang KDRT yang pernah dialaminya dan perjuangannya untuk mendapatkan keadilan hukum.

Kasus lainnya terjadi pada teman saya sendiri, yang juga mengalami KDRT hingga akhirnya pisah rumah. Parahnya, si suami membawa serta anak mereka dan meminta teman saya itu yang mengurus perceraian karena si suami ingin menikah lagi. Di sini saya betul-betul ingin mengumpat, tapi dalam hati saja lah. Ada lagi teman saya yang lain yang menurut penuturannya sering mendapatkan kekerasan verbal dari suaminya, sehingga dia akhirnya selalu merasa sebagai pihak yang salah untuk semua kejadian di keluarganya. Namun, teman saya itu tidak mau melaporkan tindakan suaminya itu ke pihak berwenang. Teman saya selalu memikirkan nasib anaknya bila seandainya dia berpisah dengan suaminya. Hingga dia nampak menerima saja diperlakukan sedemikian oleh suaminya itu.

Kasus berikutnya yang dulu pernah heboh adalah kasus terbunuhnya seorang anak perempuan cantik di Bali oleh ibu angkatnya. Ada lagi, saya pernah membaca status facebook teman saya yang mendapati ada seorang perempuan membawa jalan kaki anaknya yang masih kecil. Masalahnya adalah, perempuan itu berteriak-teriak enggak jelas, sedang si anak terus mengikutinya tanpa ada pengawasan dari si perempuan itu. Sayangnya kelanjutan ceritanya saya tidak ingat.

Saya yakin, di sekitar Teman ReeNgan mungkin ada satu atau dua peristiwa KDRT yang terjadi. Ada yang berani melaporkan karena ingin keluar dari jerata KDRT seperti Kak Alaika, ada juga yang tidak mau melaporkan karena berbagai sebab seperti kasus teman saya itu. Kadang kitanya yang lebih gemes dan lebih emosi ketimbang si korban ya. Namun, sebetulnya bisa enggak sih, kita sebagai orang lain, melaporkan tindakan KDRT yang terjadi di keluarga saudara atau teman kita? Sebelumnya saya tulis ulang pengertian KDRT menurut Pasal 1 angka 1 UU No. 23 tahun 2004 (UU Penghapusan KDRT),

"KDRT yaitu setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga"

Hmmm... sayangnya, menurut pasal 26 ayat 2 UU Penghapusan KDRT, keluarga atau pihak lain tidak dapat melaporkan secara langsung adanya dugaan KDRT kecuali telah mendapat kuasa dari korban *menghela nafas panjang*. Tapi tenang, menurut pasal 15 UU Penghapusan KDRT, kita bisa melakukan usaha sebagai berikut:
  • mencegah berlangsungnya tindak pidana
  • memberikan perlindungan kepada korban
  • memberikan pertolongan darurat
  • membantu proses pengajuan permohonan penetapan perlindungan dengan persetujuan korban

Yah, serba salah juga, di saat kita tahu kalau korban sudah mengalami KDRT, namun kita tidak bisa melaporkan tindakan tersebut tanpa persetujuan si korban, apalagi bila korbannya adalah anak-anak. Mungkin, kita bisa mengajak korban berdiskusi tentang perlakuan yang diterimanya, alasan mengapa korban tidak mau melaporkan, dan mungkin keuntungan dan kerugian yang didapat ketika si korban mau melaporkan KDRT yang dialaminya. Karena, bagi korban yang mau melaporkan kasus KDRT yang diterimanya, korban mendapatkan hak-hak sebagai berikut (Pasal 10 UU Penghapusan KDRT):
  • perlindungan dari pihak keluarga, kejaksaan, pengadilan, advokat (pengacara), lembaga sosial, atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan,
  • pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis,
  • penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan korban,
  • pendampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum pada setiap tingkat proses pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,
  • pelayanan bimbingan rohani

Lalu bagaimana bila si korban ternyata berubah pikiran menjadi mau melaporkan perbuatan KDRT yang diterimanya? Menurut penuturan mas Anggara dan tulisan Kak Alaika, saya mendapatkan simpulan bahwa sebelum melaporkan perbuatan KDRT yang diterimanya itu ke polisi, lebih baik berkonsultasi dulu dengan pengacara. Awalnya, dalam hati saya bilang "mencari pengacara itu kan susah, kalaupun ada biasanya mematok tarif yang tidak ringan". Namun kini, ada beberapa orang yang berniat baik ingin membuat tranparansi tentang hukum, pengacara, notaris dan penerjemah. Selain itu mereka juga ingin agar masyarakat mudah mencari pelayanan hukum, dan para pengacara, notaris dan penerjemah itu juga mudah mencari klien dengan membuat web justika.com


Ketika korban merasa kebingungan mencari pengacara, korban atau kita bisa menuliskan permasalahan yang dihadapi di kolom konsultasinya justika.com. Setelah itu, kita akan mendapatkan balasan dari pengacara-pengacara yang sudah terdaftar di justika.com. Kita bisa memilih menggunakan jasa pengacara yang mana. Kita juga bisa memilih pengacara yang kantornya tidak jauh dari domisili korban atau kita. Jika ternyata si korban berasal dari keluarga yang tidak mampu, maka kita bisa memilih menggunakan jasa pengacara yang mau pro bono (mendapatkan bantuan hukum secara gratis). Sesuai dengan apa yang saya baca di postingannya Kak Alaika, carilah pengacara yang mau mendampingi korban dan kita selama proses peradilan berlangsung. Bukan hanya mendampingi saat sidang.


Saya yakin, tidak ada seorang manusia pun yang mau mengalami tindakan KDRT. Namun, bila itu terjadi, saya hanya minta cobalah berpikir dengan jernih. Jika memang sangat teramat yakin kalau pasangan nantinya akan berubah, terus berjuanglah mempertahankan rumah tangga. Namun bila perlakuan pasangan sudah sangat keterlaluan seperti sampai tega membuat kita terluka fisik, seksual dan psikis, (saya enggak tahu apakah saya pantas mengucapkan ini, tapi saya betul-betul ingin mengucapkannya), maka buat apa mempertahankan pasangan yang seperti itu. We deserved better! Kita bukan mahluk lemah yang tidak bisa apa-apa. Rejeki, maut dan jodoh memang sudah ditakdirkan, tapi pasrah menyerahkan badan dan atau jiwa kita untuk terus menerus dilukai oleh pasangan, itu sama saja dengan bunuh diri.

Saya sendiri tidak pernah mengalami KDRT, dan saya tidak mau berandai-andai tentang KDRT. Tapi, seperti yang sudah saya tulis di atas, saya prihatin, gemas dan emosi bila melihat atau mendengar tentang KDRT. Apalagi bila korbannya sampai sudah terluka parah, gila atau bahkan meninggal. Apakah hati (baca: perasaan/nurani) si pelaku sudah mengalami "sirosis"(pengerasan) atau bahkan sudah rusak parah? Semoga orang-orang dengan sirosis atau kerusakan hati itu mulai sedikit jumlahnya. 


Sungguh, hidup berumah tangga dengan damai tanpa KDRT itu betul-betul serasa di surga, bahagia yang dirasakan apapun kondisi saat itu. [] Riski Ringan

Sumber informasi:
  • justika.com
  • UU No. 23 tahun 2004 (UU Penghapusan KDRT)
  • klinik hukum online

94 comments:

  1. KDRT memang issue yang urgent dan perlu penanganan segera. Kalau masyarakat sudah aware dengan hadirnya justika sangat membantu tuh. Perlu banyak sosialisasi ya untuk ini plus edukasinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Teh Ani. Masyarakat jadi enggak bingung mau cari pengacara dimana dan membuka transparansi hukum.

      Delete
  2. Wah berarti justika.com sangat membantu ya mbk. KDRT memang banyak terjadi dalam rumah tangga mbk, harus hati-hati. semoga dengan adanya justika.com dapat membantu ya mbk

    ReplyDelete
  3. Agak bingung juga ya gimana mau bantu teman atau kenalan yang kena KDRT. Mungkin dengan adanya justika bisa membantu mereka dengan cara yg tepat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, semoga semakin banyak korban KDRT yang berani mengajukan tuntutan karena sekarang mencari pengacara bisa lebih mudah dan transparan.

      Delete
  4. Suka serem kalau baca berita KDRT, denger suara yang nadanya tinggi atau sorot mata tajam aja aku mah udah takut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, Teh Efi. Apalagi yang sampai luka-luka parah atau malah jadi gila gitu korbannya. Serem sekaligus kasihan...

      Delete
  5. Masalah KDRT memang sensitif buat sebagian orang ya mak :'
    mayoritas korban mungkin saja bingung mau mengadu kemana, bagaimana prosedurnya dll, kayaknya justika ini bisa jadi solusi yang praktis. Nice share mba riski ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... semoga semua permasalahan hukum bisa semakin mudah penyelesaiannya.

      Delete
  6. Soal KDRT ini jadi isu sensitif di kalangan korban karena mereka takut bayar mahal pengacara dan nggak tau apa jalur hukum yang harus dilakukan. Untungnya ada Justika ya sekarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dan apalagi kebanyakan korban adalah masyarakat ekonomi menengah ke bawah...

      Delete
  7. KDRT memang banyak terjadi ya, sayangnya ngga semua korbannya berani mengadu ke polisi atau proses hukum. Ya, urusan sama hukum mmg ribet dan butuh uang kadang. Semoga makin bnyak yg kenal justika supaya tau hrs kemana klo butuh bantuan hukum

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ribet banget ya Mba Nurul kalau berurusan dengan hukum itu. Semoga dengan adanya Justika ini, permasalahan hukum jadi lebih mudah.

      Delete
  8. KDRT, ngetiknya aja aku udah ngeri mba :( semoga kita semua terlindungi dari kekerasan dalam bentuk apapun ya mba. hidup damai sehat sentosa makmur. Aamiin :)

    ReplyDelete
  9. Saya juga banyak melihat KDRT di sekitar saya. Sejauh ini, gak ada yang bisa saya lakukan selain membujuk korban untuk lapor. Tapi ya gitu, mereka selalu takut. Dan lebih memikirkan pandangan orang jika jadi cerai dan nasib anak-anak mereka.

    Keren ya Justika.com ini. Menjadi jawaban dari keseganan untuk bersentuhan dengan area hukum. Jika secara online, korban mungkin akan lebih bebas bercerita daripada ngomong langsung. Semoga dengan adanya web hukum seperti ini, masalah KDRT bisa berkurang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah Mba Nia, saya prihatin sekali sebenarnya. Banyak juga korban (apalagi yang perempuan) takut melapor karena berpikir bagaimana kehidupan mereka setelah berpisah dengan pasangannya itu.
      Semoga dengan adanya kemudahan penyelesaian permasalahan hukum ini, para korban KDRT bisa lebih berani melapor ya Mba, aamiin

      Delete
  10. KDRT tidak hanya terjadi di negeri kita, kok, di negara lain juga banyaj sekali kasusnya. Dan begitulah, berurusan dengan hukum, selain butuh keberanian, sudah pasti butuh uang. Ini yang tidak dimiliki oleh semua korban, sehingga mereka memilih untuk diam, pasrah.
    Sudah saatnya masyarakat, terutama korban mendapat edukasi ttg langkah apa yg seharusnya dilakukan jima memgalami hal ini. Untungnya sudah ada justika.com, di mana kita bisa belajar utk lebih tau dan juga konsultasi jika diperlukan, bahkan tersedia pula para praktisi hukum yang sesuai budget. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Kak. Setelah baca kisahmu, memang perlu tekad yang kuat dari korban untuk mau melepaskan diri dari tindakan KDRT seperti itu. Semoga dengan adanya justika ini, banyak korban yang mau melaporkan KDRT yang dialaminya.

      Delete
  11. Dilemanya itu kalau kita lihat perempuan korban KDRT tapi dia sendiri gak mau kasusnya dilaporkan ke Polisi.
    Suka gemes, dia pasrah aja sama nasibnya. Padahal dia bisa memilih yang lebih baik kalau dia mau.
    Tapi lagi-lagi, pertimbangan akan anak, omongan orang dll memang gak mudah diputuskan sendiri. Harus ada pendampingan, syukurlah Justika hadir membawa solusi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itulah Mba Ety, saya sebagai orang lain sering miris. Tapi hanya bisa menenangkan dia saja. Kalau bilang ke pelaku kan nanti malah dimarahi dikira nyampuri urusan rumah tangganya, huh..

      Delete
  12. Wahh, repot juga ya kalo kita mau campur tangan, tapi ternyata si korban ga mau laporin. Aku ada temen yang begitu, dia akhirnya milih pulang ke rumah orang tuanya untuk smentara. Puji Tuhan suaminya tidak melakukan kekerasan setelah itu. Yang kasihan kalau mereka yang ga punya tempat mengadu ya mba.. kayak buah simalakama... :((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku setuju sama pilihan temennya kak Lasma. Ya daripada bonyok di rumah sendiri, mending ngungsi dulu.
      Iya Kak, kita sangat bersyukur punya pendamping yang baik...

      Delete
  13. Liat berita KDRT suka geregetan sendiri berasa pengen langsung tempeleng aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga pengennya gitu, Mel. Cuma kalau ketemu langsung jadi males mau nempeleng "ba*ci" kek gitu mah...

      Delete
  14. Serba susah terkadang, korban hendak melapor tapi pasti jadi masalah keluarga yang lebih besar. tidak dilaporkan ke Polisi tentu bisa saja masalahnya berulang dan mungkin saja makin parah. Kalau pendapat saya tetap laporkan ke Polisi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, laporin saja. Tapi sebelum ke polisi lebih baik konsultassi dulu dengan pengacara. Biar tahu apa saja yang harus dilakukan dan disiapkan.

      Delete
  15. Justika.com membuat masyarakat semakin melek hukum ya mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba Sulis. Konsultasi hukum & cari pengacara juga jadi lebih mudah.

      Delete
  16. Semoga si pelaku KDRT bisa segera sadar bahwa luka yang dia beri bukan cuma fisik, tapi lebih dalam lagi yaitu ke jiwa :((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.
      Semoga korban juga bisa sadar bahwa dia punya pilihan lain selain menjadi korban KDRT pasangannya.

      Delete
  17. kalau denger KDRT antara pengen laporin sama gak tega liat korban nya.. semoga kasus KDRT berkurang deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga sama, Kak Mariana. Tapi ternyata kita sebagai orang lain enggak bisa ngelaporin tindakan KDRT tanpa persetujuan korban. Sedih sebenarnya.

      Delete
  18. suka gemes kalo korban KDRT nya anak2, apalagi yg kejadian kemarin2 masih balita..mau lapor juga dia gak ngerti

    mudah2an kasus KDRT terhadap anak berkurang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu. Mungkin kalau korbannya anak-anak, proses hukum dan UU-nya beda lagi ya. Coba nanti saya cari jika korban KDRT adalah anak-anak.

      Delete
  19. Pelaku KDRT harus ditindak dengan tegas supaya nggak terulang lagi,, apalagi klo si anak yang jadi korban..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap betul itu. Karena sakit yang ditanggung korban itu enggak hanya fisik, kejiwaan mereka juga terluka.

      Delete
  20. Nah, ini PR bersama ya. gimana supaya mencegahnya, dan gimana supaya bisa membantu. mungkin kuncinya memang "perhatian pada sesama"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, perhatian kepada sesama terutama tetangga, keluarga dan teman. Walaupun kadang disalah artikan seperti ikut mencampuri urusan rumah tangga mereka. Beneran serba salah ya.

      Delete
  21. Memiliki sebuah keluarga tanpa KDRT sangat diimpikan oleh semua orang, dan ketika saya melihat fenomena tersebut rasanya hati miris banget.. kok bisa bgtu.. sebenarnya si pelaku itu mempunyai hati apa tidak gtu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Si pelaku itu enggak punya hati, Mba. Mereka itu pengecut dan cemen.

      Delete
  22. Semoga setelah makin banyak bantuan hukum spt ini, makin menolong banyak korban KDRT juga ya :)

    ReplyDelete
  23. Banyak wanita yang udah menjadi korban KDRT dan suka ngeri aja gitu lihatnya mbak :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama. Dulu aku pernah melihat muka temenku babak belur. Apalagi matanya ada bekas tonjokan gitu. Ya Allah ngeri banget ngelihatnya.

      Delete
  24. ayok bangun rumah tangga yang baik dengan dilandasi kasih sayang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, semoga semakin banyak keluarga samawa...

      Delete
  25. '... tidak ada seorang manusia pun yang mau mengalami tindakan KDRT' - setuju nih. Mana ada sih, yang mau, ya? :-/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak ada yang mau (kecuali dia punya kelainan seksual ya).

      Delete
  26. KDRT memang perlu penanganan khusus, biasanya perempuan punya trauma sulit mengungkapkan sehingga tidak bisa mendapatkan keadilan. Aduh ngeri... untung ada justika ini ya mba... thanks infonya

    ReplyDelete
  27. Kok jadi keingat kasus KDRT-nya MT... kemarin abis liat youtubenya yang sama Deddy Corbuzier wkwk #gosip

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, masa sih Una. Orang yang kelihatannya baik-baik dan banyak menyebar kebaikan gitu melakukan tindakan KDRT?
      *antara percaya sama enggak* *soalnya enggak punya TV* *dan enggak mau ngikutin beritanya MT* hehehe

      Delete
  28. Kalo denger kata pengacara yang kebayang emang harus bayar mahal ya mba, semoga bantuan hukum gratis dari justika betul-betul memudahkan mereka yang membutuhkan

    ReplyDelete
  29. justika sangat membantu banget nih, korban KDRT bisa mencari pengacara secara online
    biasanya pengacara kan identik dengan uang dan mahal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyap, selain cari pengacara secara online, dia juga bisa milih pengacaranya dan memberi peringkat.

      Delete
  30. Sayangnya seringnya memang korban-korban KDRT ini lebih sering diamnya ya mbak. Mungkin antara takut tambah disakiti, dan juga mikirin biaya yang pasti nggak sedikit kalau kudu lapor ke berwajib. Syukurlah sekarang sudah ada Justika ya mbak, jadi mereka yang nggak punya biaya bisa sangat terbantu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya itulah sedihnya. Sudah dapat KDRT, trus susah lagi mesti melapor kemana. Semoga dengan adanya justika bisa membantu mereka, aamiin.

      Delete
  31. Banyak sih teh yg ngalamin KDRT tapi selalu anak yg jadi alesan buat bertahan yah, kesian sih sebenernya tapi ya kita mah bisa apa kan..
    Tapi kalo udah tau ada justika.com gini mah seenggaknya, bisa bantu ngasih saran buat konsul dulu yaa teh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kita bisa konsultasi dulu sebelum memilih pengacara yang sesuai dengan keinginan kita.

      Delete
  32. Ada tetangga saya sering mengalami kdrt, dipukul, dijorokin sampai kepalanya kejedot tembok dsb, sampai sekarang masih bertahan mbak. Padahal perlakuan suaminya udah kasar banget. Ucapannya juga selalu nusuk. Yang lebih mirisnya saat setahunan yang lalu suami yang sering sakit sariawan nggak kunjung sembuh ternyata menderita HIV/AIDS. Saat itu pas curhat ke saya, dia menangis. Dia nggak nyangka jika selama itu suami 'jajan' di luar. Apalagi dia juga positif tertular HIV meski belum sampai terkena AIDS.

    Yang saya herankan, dia masih mau bertahan dengan suami seperti itu. "Dia pilihanku, aku harus bertanggung jawab dengan seseorang yang sudah aku pilih dulu." katanya "aku mikirin anak-anakku." makanya dia sanggup menahan luka baik hati maupun fisik demi anak-anaknya. Yang lebih herannya suaminya adalah polisi. Ah, saya jadi nggak tega ngungkapinnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Astaghfirullah... saya ikut prihatin dengan tetangganya Mba.
      Kalau boleh saya bilang ke tetangganya Mba, "Tanggung jawabmu pada pilihanmu sudah cukup. Sekarang kamu hanya bertanggung jawab pada anak-anakmu. Masih ada pilihan lain selain menjadi korban KDRT". Semoga tetangga Mba dikuatkan hatinya agar bisa keluar dari jerat KDRT itu ya Mba, aamiin.

      Delete
  33. Ikut prihatin dengan tetangganya. :( Semoga kita para istri diberi keselamatan sehingga ta sampai teradi hal demikian

    ReplyDelete
  34. KDRT jadi isu yang sensitif, karena di Indonesia di Jawa khususnya masyarakat masih terikat norma adat dan rasa malu jika permadalahan rumah tangganya diketahui orang lain. Itulah sebabnya fenomena KDRT, seperti gunung es. Yang nampak di permukaan hanya sebagian dari yang sebenarnya...

    ReplyDelete
  35. Wah ada bantuan hukum secara gratis neh. Kalau ngomong KDRT, saya pernah melihat langsung kejadian, dan bikin nyesek, diajak ngelapor tidak mau. Duh miris.

    ReplyDelete
  36. Waah baru tahu ada website untuk konsultasi hukum seperti justika mbak. Jadi masyarakat yang ingin mencari pengacara atau sekedar konsultasi hukum tidak kesulitan lagi ya mbak. Nice info...

    ReplyDelete
  37. siapa yang mau disakiti? saya juga ada mba keluarga yang mengalami KDRT sampai 9 tahun, yang lebih sakit fisik. Bahkan ada keluarga deketnya yang tahu tapi merasa 'ah, sudahlah urusan rumah tangga orang' Setelah 9 th itu dia baru punya nyali untuk berpisah dan menceritakan pada orang-orang termasuk keluarga kami.

    ReplyDelete
  38. Duuh..saya juga gemes banget mba kalo ada denger tentang KDRT dan yg jadi korban umunnya istri (kaum perempuan ) dan anak.
    Semoga perundang2an negara benar2 serius mengatur dan menjaga perlindungan bagi warganya

    ReplyDelete
  39. Aduh KDRT itu benar-benar salah satu contoh dari perbudakan yang masih ada dari jaman dahulu kala hingga jaman modern.
    UU harus mengatur dengan jelas dan tegas, supaya yang jadi korban pun berani untuk mengadu...

    ReplyDelete
  40. mmg miris ya mbak klu bicara tentang KDRT, bagai buah simalakama. tidak dilaporin si korban makin menderita terus, dilaporin pasti banyak dampak yang akan berentetan terutama anak.

    ReplyDelete
  41. Semoga saya tidak mengalami KDRT, terima kasih artikelnya bermanfaat.

    ReplyDelete
  42. Tapi ada loh Mba, wanita yg rela di KDRT dan terisolasi hubungan dgn keluarganya sendiri. Bahkan ia memilih bertahan dgn harapan esok pasti indah. Tapi kalo spt itu saya kok pesimis ya, sediiih banget ngeliatnya. Apalagi wanita tsb udah enggan curhat ke sahabatnya lagi. Karena pasti sahabat2nya menyarankan untuk cerai aja :(

    Serba salah kalo dari si wanitanya udah memilih jalan hidup spt itu.

    ReplyDelete
  43. Syukurlah ada Justika.com ini
    Suka bingung kalau ada teman yang mengalami KDRT rata-rata dari mereka memang enggan melapor dengan berbagai alasan dan pertimbangan.
    Semoga ke depannya semakin tegas UU untuk tindak KDRT yang terjadi.. Aamiin

    ReplyDelete
  44. berat nih bahasannya, kadang-kadang memang ada orang yang tidak mau melaporkan, alasannya karena ini masalah rumah tangga sendiri, tidak baik diumbar ke orang lain, tapi kalau sudah main fisik dan tidak hanya sekali dua kali, sebaiknya kita ikut turun tangan, keluarga terdekat apalagi

    ReplyDelete
  45. Dulu aku salah seorang korban kdrt, bukan cuma masalah hukum dll sih, tapi masyarakat sosial turut bikin males ngadu ke polisi.stigma negatif dari masyarakat ikut nyumbang keengganan korban kdrt buat ngadu

    ReplyDelete
  46. setuju banget bahwa KDRT mestinya tidak ada di dalam setiap keluarga. suami istri harus saling menjaga diri, menahan diri, untuk tidak melakukan kekerasan terhadap pasangan, baik secara verbal maupun fisik

    ReplyDelete
  47. Aku kurang paham ttg hukum, tp kalo ada badan hukum yg ramah masyarakat pasti akan lebih diminati.

    ReplyDelete
  48. ya Allah gak tega sebenarnya kalau dengar kisah KDRT, alhamdulillah sdh ada Justika, semoga bisa mjd solusi para korban KDRT ya

    ReplyDelete
  49. Nah bener macem korban KDRT pastinya bakal lbh merasa secure dg model bantuan praktisi hukum online kyk justika.

    ReplyDelete
  50. KDRT itu emang PR masyarakat banget ya.. karena disatu sisi kalo masih terjadi di rumah (dan belom ada yang tau) mau dibawa keluar juga pasti korbannya malu. Apalagi budaya 'nyinyir' di lingkungan-lingkungan suburban di Indonesia kentel banget.
    semoga dengan adanya justika bisa membantu korban-korban kdrt lainnya yang gak tau harus ngapain dan gak berani coming out.

    salam kenal!

    ReplyDelete
  51. bisa langsung pilih-pilih pengacara nih kalau ngalamin kdrt hahaha

    ReplyDelete
  52. Menurut saya sih kadang yang membuat korban KDRT diam saja bisa jadi karena takut, cinta, atau ya itu proses hukum yang mungkin dirasa menyulitkan :)

    ReplyDelete
  53. banyak orang yang enggan bercerita mengenai KDRT, karena tidak semua orang paham bagaimana menghadapinya.. kalau ada justika, semoga bisa membantu mereka yang dihadapi dengan masalah kdrt.. makin keren kalojustika juga bisa membantu mengedukasi mereka-mereka yang sudah berumah tangga dengan mengadakan talkshow atau sharing session.. :D

    ReplyDelete
  54. makasih infonya
    baru tahu ada web untuk konsultasi hukum seperti justika

    ReplyDelete
  55. Justika ini emang bakal ngebantu banget untuk orang yang terkena KDRT dan mungkin bingung untuk nyari bantuan hukum ke mana dulu yaa..Makasi infonya ya Maaak

    ReplyDelete
  56. KDRT isu sensitif banget ya, mbak. Banyak juga yang gak mau mengakui kasus ini karena alasan malu. Hemmm semoga ada dengan adanya Justika, bisa membantu siapapun yang mengalami KDRT dan berkebutuhan hukum lainnya ya, mbak.

    ReplyDelete
  57. Wowo baru tahu ada bantuan hukum yang bisa didapatkan online, Mbak. Jadi semakin mudah membantu mereka yang terkena KDRT. TFS :)

    ReplyDelete
  58. Dengan adanya situs ini tentu bisa memudahkan para calon penggunanya untuk memakai jalan hukum untuk mengatasi masalah yang sedang dialaminya.

    ReplyDelete
  59. Informasi ini berharga sekali
    Semoga para korban kdrt berani untuk mengungkap

    ReplyDelete
  60. Beruntung hidup dizaman yang serba online, sampai masalah hukum juga bisa diselesaikan via online.
    Aku juga udah nyoba sih pakai justika, enak loh konsultasi nya gratis, nggak kayak ke dokter, nanya aja bayar wkwkwk

    ReplyDelete
  61. beruntungnya kita hidup di zaman serba online, sampai perkara hukum saja sudah bisa di online kan.
    AKu juga udah pernah nyoba pakai justika, enak loh konsultasinya gratis. beda kalo ke dokter, konsultasi aja bayar he he

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...