Wednesday, 9 December 2015

Melindungi Anak-anak Dari Dampak Negatif Internet

Assalaamu'alaikum... ^_^

Saya mau tanya dulu deh, berapa kali Teman ReeNgan melihat media sosial dalam sehari? Trus berapa jumlah media sosial yang Teman ReeNgan punya? satu, dua atau lebih dari lima? Buat Teman ReeNgan yang sudah punya putra putri, memberikan akses pada mereka untuk menggunakan media sosial enggak? Hehehe, baru awal paragraf sudah tanya macam-macam ya. Terus terang, saya punya lebih dari lima akun media sosial, tapi yang aktif hanya lima. Lima itu ternyata termasuk banyak lho. Mungkin malah, suatu saat nanti akan semakin banyak bermunculan jenis media sosial yang baru. Saya pun ketika bertemu dengan keponakan, kadang-kadang (menjurus ke jarang sekali) memberikan akses media sosial saya ke mereka, walaupun itu hanya sekedar Youtube.

Media sosial yang merupakan bagian dari internet itu ibarat pisau dengan dua mata yang tajam. Satu mata positif, yang lainnya negatif. Dengan media sosial, kita bisa bertemu dengan teman-teman lama atau malah berpenghasilan dari media sosial. Dari media sosial juga muncul peristiwa-peristiwa yang sangat tidak mengenakan. Contoh kasus, peristiwa pencemaran nama baik provinsi D.I.Y oleh seorang mahasiswa, menyebarnya video asusila, kasus penculikan anak, penjualan foto-foto asusila anak, prostitusi online dan lain-lain. Kalau membayangkan hal itu, ngeri banget ya. Enggak usah jauh kesitu, ada juga kasus pembobolan akun media sosial teman kita lalu akun tersebut mengirim pesan minta uang untuk operasi saudaranya. Itu juga ngeri kan ya. 

Bercerita tentang kasus penculikan anak karena media sosial, ini ada sebuah video eksperimen tentang betapa mudahnya seorang anak menerima ajakan dari teman di media sosialnya yang baru saja dia kenal.


Yang kasus penjualan foto asusila anak itu, si anak tidak sadar kalau dia sedang diperalat oleh akun palsu yang mengaku-aku dari tenaga profesional agar si anak mau memfoto daerah privasinya. Sebagai orang tua, jika membaca berita-berita seperti itu tentu sedih dan mulai menghujat pelaku. Namun, sebenarnya untuk mencegah terjadinya hal-hal seperti itu, semuanya dimulai dari keluarga si anak, lagi-lagi terutama orang tua. Ya, siapa lagi yang bertanggung jawab kalau bukan kita, orang-orang yang lebih tua darinya.

Bisakah kita mencegahnya? Padahal sekarang ini sudah banyak anak yang dengan mudah mengakses media sosial. Mereka sedari kecil bahkan mungkin sedari masih bayi sudah mengenal internet dan media sosial. Terus terang, keponakan saya sejak usia 4 tahun sudah bisa membuka Facebook dan Youtube dari HP saya jika saya sedang bersamanya. Jawaban pertanyaan tadi adalah bisa, sangat bisa. Caranya dengan apa? Kitanya sebagai orang tua harus juga belajar menggunakan media sosial dan membuat perjanjian mengikat penggunaan media sosial dengan anak. Enggak bisa orang tua hanya membelikan smartphone untuk anak, lalu ya sudah terserah mau diapakan saja yang penting anak saya kekinian. Oke parents, anak itu setahu saya masih jadi tanggung jawab kita sebagai orang tua. Apapun yang dilakukan oleh anak, nanti yang ditanya dan dimintai tanggung jawab adalah orang tuanya.

Maaf kalau Teman ReeNgan yang baca tulisan ini mungkin berpikir, "huh.. kok selalu orang tua yang salah". Saya hanya ingin tingkat kewaspadaan kita sebagai orang tua semakin meningkat. Tapi bukan berarti trus anak-anak kita (apalagi yang sudah bersekolah) dijauhkan dari media sosial atau dunia internet. Itu menurut saya juga enggak bisa karena jaman menuntut kita semakin mendekat ke internet. Trus caranya bagaimana? Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan untuk melindungi anak-anak dari dampak negatif internet dan media sosial :

Belajar Menggunakan Internet dan Media Sosial

Hari Senin dan Selasa (7-8 Desember 2015), saya mengikuti workshop pembuatan Pedoman dan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bagi Perempuan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA). Salah satu poin penting yang saya tangkap adalah melalui panduan tersebut, KPPPA ingin membuat perempuan-perempuan di Indonesia lebih melek internet agar mereka bisa memanfaatkannya dalam keluarga, sosial dan meningkatkan perekonomiannya. 

Kenapa internet yang disasar? Jawabannya sudah panjang kali lebar saya jelaskan di paragraf-paragraf sebelumnya. Lalu kenapa pula perempuan yang menjadi target pembelajaran? Tidak dapat dipungkiri bahwa perempuan masih menjadi sumber ilmu pertama bagi anak dan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari anak. Namun, akses perempuan Indonesia terhadap TIK masih lebih rendah dibanding laki-laki (jangan hanya melihat penggunaan TIK di kota-kota besar ya, lihat juga yang di luar kota besar). Seringnya juga, anak justru lebih mahir menggunakan TIK terutama internet dan media sosial daripada ibunya. Oleh karenanya, KPPPA akan mengadakan pendidikan, penyuluhan dan pendampingan terhadap kaum perempuan agar mereka melek teknologi. Tidak hanya bisa menggunakan tetapi juga memanfaatkannya dalam hal yang positif salah satunya adalah untuk melindungi keluarga terutama anak dari dampak negatif internet dan media sosial. Semoga panduan ini bisa segera jadi lalu diaplikasikan ke seluruh provinsi di Indonesia, aamiin.

Iya, jangan malu untuk mempunyai dan menggunakan internet dan media sosial seperti yang dipunyai anak kita. Saya yakin kok, mereka malah akan lebih bersahabat dengan kita. Belajarnya bisa dengan siapa saja yang sudah mahir, bisa dengan teman, keluarga atau bahkan dengan anak.

Membuat Perjanjian Mengikat dengan Anak tentang Penggunaan Internet

Bisa banget lho orang tua dan anak membuat perjanjian yang mengikat. Kalau perlu perjanjian itu ditulis lalu ditanda tangani berdua. Terkesan lebay ya? Tapi yakinlah kalau ini akan sangat berguna untuk anak dan orang tua. Kalau ada Teman ReeNgan yang bilang, "anak saya susah sekali lepas dari gadgetnya, mau pakai perjanjian-perjanjian apapun juga enggak bakal mempan." Coba dulu saja, dan orang tuanya juga berusaha menepati pernjanjian ya. Bikin perjanjiannya pun diusahakan yang adil, tidak melulu memberatkan si anak.

Contoh surat perjanjian bisa dilihat di sini : Surat perjanjian penggunaan gadget

Memasang Aplikasi atau Tools Perlindungan Anak di Gadget
Saya sempat kaget ketika keponakan saya tiba-tiba terdiam karena melihat video di Youtube lewat HP saya, saat saya sedang ke rumahnya. Memang yang dia buka ya video-video kartun princess-princess, tapi yang jadi masalah adalah saya lupa menghidupkan parental controlnya. Saya minta baik-baik HP saya, saya bilang sebentar nanti dibalikkin lagi, lalu saya hidupkan parental controlnya. Fiuh... legaa. Selain parental control bawaan sosial media tersebut, ada beberapa aplikasi atau tools yang bisa orang tua gunakan untuk melihat anak-anak membuka atau menelusuri apa saja di gadgetnya.

Contoh aplikasi atau tools tersebut diantaranya Google Safe Search, Youtube Kids, Norton Family, dan Qustudio. Qustudio misalnya, aplikasi ini bisa dipasang di gadget yang akan kita berikan ke anak, kita beri password, lalu setiap hari kita bisa mengakses aktivitas gadget anak dari gadget lain (misalnya dari HP orang tua). Semua aktivitas internet di gadget anak bisa dilihat, anak membuka situs apa saja juga bisa ketahuan.

turn on google safe search, google safe search
Mengaktifkan Google Safe Search (klik link ini : https://support.google.com/websearch/answer/510?hl=en)


Website berisi bahan belajar anak yang aman (klik link berikut : http://www.safesearchkids.com/google/#.VmhA4F53DDe)

Qustudio (klik link berikut : https://www.qustodio.com/en/)
Norton Family (klik link berikut : https://onlinefamily.norton.com/familysafety/loginStart.fs)
Ya inilah tantangan kita sebagai orang tua era digital, dimana musuh kita dalam pertumbuhan dan perkembangan anak sudah semakin abu-abu seabu-abunya dunia maya. Semoga kita sebagai orang tua bisa melindungi anak-anak kita dari pengaruh negatif internet dan bisa membimbing mereka menggunakan internet secara sehat, aamiin.

Teman ReeNgan punya cara lain untuk melindungi anak-anak dari dampak negatif internet? Boleh kok dishare di kolom komentar blog ini ^_^. Pengalaman Teman ReeNgan pasti akan sangat berguna bagi orang tua-orang tua yang sebenarnya bukannya tidak ingin melindungi anaknya, tapi sudah habis ide cara melindungi anaknya dari bahaya internet.

15 comments:

  1. Wah sangat informatif pembahasannya Mbk Riski.. Internet sekarang ini memang sangat berperan aktif bagi kehidupan sehari-hari. Pertanyaannya adalah sudahkah kita menggunakan Internet dengan baik dan benar ? Semoga dengan artikel ini bisa banyak membantu banyak orang ya Mbk. Semoga program KPPPA ini juga bisa secepatnya terealisasi. Aminn

    ReplyDelete
  2. Kalau membaca berita-berita kriminal efek dari kesalahan penggunaan internet pada anak di atas, seram banget ya. Jadi nggak bisa ditawar-tawar lagi, pedoman yang jelas untuk para pengguna memang harus segera direalisasikan dan disosialisasikan.

    ReplyDelete
  3. Wah, keren, Ris. Aku juga pengin cobain tools-nya.

    ReplyDelete
  4. Ayo kita gerakkan Sosialisasi Internet Sehat kepada orang di dekat kita !!!

    ReplyDelete
  5. Bahasan yang menarik....terutama tentang perjanjian itu...
    Apakah efektif bila anak masih SD?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anaknya mas Banyumurti (yg bikin perjanjian itu) juga masih SD, Ka Fee.. :)

      Delete
  6. Dicatet, penting jika suatu hari anakku punya gadget sendiri. Makasih sharingnya Mak.

    ReplyDelete
  7. TFS mak :)
    semoga anak-anak kita dijauhkan dari segala bentuk kejahatan baik dari media sosial maupun dari lingkungan tempat tinggal kita, amin..

    ReplyDelete
  8. youtube kids itu ada di aplikasi youtube nya ya?

    di atas gak ada linknya mbak riski....

    ReplyDelete
  9. Setuju, anak-anak perlu di kontrol saat menggunakan internet.

    ReplyDelete
  10. Aku malah baru tahu berita asusila itu, Mbak. Kudet.

    Pemberian akses inet diperbolehkan kalau ortu udah di rumah kalik, ya. Sama2 di runah. Jdi lebih aman.

    ReplyDelete
  11. Segala hal memang harus ada kendalinya ya mba, terlebih teknologi yang untuk mengkonsumsinya harus memiliki basic ilmu. Sehingga tahu persis untuk apa menggunakan internet, bukan sekedar mengkonsumsi saja.

    ReplyDelete
  12. laptopku pernah dipasangin semacam pelindung begitu mba. tapi bukan sama ortuku..hahaha..sama pacar (waktu itu)..antara protektif atau posesif

    ReplyDelete
  13. saya tidak membuat perjanjian mengikat dengan anak-anak. Selama ini paling hanya rajin berkomunikasi saja. Sering berdiskusi apa aja yang boleh dna tidak dalam berinternet. Sama tetap melakukan pengawasan

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...