Saturday, 23 September 2017

Saya Menjauh Dari Sosial Media, Mengapa?

Assalaamu'alaikum...!! ^_^


Disclaimer: postingan ini murni curhatan saya tentang diri saya sendiri, saya tidak bermaksud menyindir orang lain. Karena apa yang terjadi di hidup kita berbeda ^_^.

Sudah sebulan lebih ini saya tidak menulis status apapun di halaman facebook saya, dan tidak mengunggah satu pun foto di instagram saya. Kenapa? Ada banyak penyebab yang akhirnya baru saya ikhlaskan menjadi penyebab setelah sebulan saya menyepi dari sosial media. Mengapa saya bilang ikhlaskan? Karena saya sadar bahwa penyebab sebenarnya dari beberapa peristiwa sebulan belakang ini adalah itu, tapi waktu itu saya tidak mau mengakuinya.

Mengapa saya menjauh dari sosial media? Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya bahwa ada beberapa alasan. Alasan utamanya adalah karena saya menyadari bahwa beberapa bulan ke belakang, saya keasyikan dengan sosial media hingga menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membaca status facebook atau instagram teman-teman. Akibatnya banyak pekerjaan rumah tangga saya yang terbengkalai dan beberapa pekerjaan di luar itu hasilnya menjadi tidak optimal. Saya merasa bersalah pada suami dan teman-teman yang sudah memercayai saya. Selain alasan itu, saya juga sudah merasa (maaf) muak dengan keinginan saya untuk terus membagi status tentang kehidupan pribadi saya. Saya tidak mau berbohong lagi bahwa kadang terselip riya di hati, dan ada pula keinginan untuk diperhatikan. Yap.. kadang perasaan itu muncul tanpa diundang. Apakah itu berarti saya kurang diperhatikan di rumah? Nope

Selain dua alasan itu, saya pun rindu ingin melakukan beberapa kegiatan yang saya sukai sebelum saya gandrung dengan sosial media. Dulu saya suka membaca buku, bikin bros, bikin pouch/wadah kecil dari kain, bikin kliping, jalan kaki, dan bertandang ke rumah teman.

Postingan paling akhir di instagram saya

Waktu memutuskan untuk menjauh dari sosial media untuk sementara waktu, saya sadar sepenuhnya bahwa itu adalah kesalahan saya sendiri. Bukan kesalahan dari sosial media, apalagi si pembuatnya. Saya lah yang belum bisa membagi waktu. Mungkin ada beberapa Teman ReeNgan yang bertanya, "Lha kamu itu sepertinya hidup teratur kok Ris!" Iya, kadang saya memang hidup dengan sangat teratur. Namun, kadang ada masanya dimana saya tidak bisa mengatur hidup saya. Beberapa bulan yang lalu, saya mengalaminya.

Seminggu pertama menjauh dari sosial media, selalu muncul keinginan untuk membuat status, mengabarkan pada dunia bahwa saya sedang ini, saya punya pemikiran ini dan itu, tapi saya tahan. Saya pun menahan berkomentar di status teman-teman yang misalnya saya paksakan untuk berkomentar maka komentar saya cenderung komentar pedas. Cukup bagi saya meng-unfriend teman facebook saya gara-gara komentar saya yang menurutnya menyakitkan hati, padahal sebelumnya kami baik-baik saja. Juga cukup untuk saya dihujat beramai-ramai gara-gara saya berkomentar tentang sikap seorang pengajar di statusnya, hehehe.

Yap! Saya belajar menahan diri dari situ. Saya berusaha memahami keinginan teman saya di sosial media dari statusnya, apakah dia memang betul-betul ingin saran atau hanya ingin pamer, bercanda atau serius, apa adanya atau sarkastik, dan lain-lain. Selama menahan diri itu pula saya mulai membagi waktu.

Apakah berhasil? Ya alhamdulillah berhasil, minimal untuk 2 minggu pertama. Setelah itu saya down lagi. Lalu saya berpikir lagi, mengapa saya bisa jatuh ke lubang yang sama. Kemarin saya baru mendapatkan jawabannya. Semua penyebabnya adalah karena saya sendiri. Saya terlalu meruwetkan masalah yang sebenarnya sederhana, dan saya terlalu malas. Memang betul jika malas itu akan membuat dunia dan pola pikir kita menyempit, betul sekali. Dua hal ini lah yang di awal saya sebutkan bahwa saya tidak mau mengakui kalau saya membawa dua hal itu terus-menerus dalam hati dan otak saya. Lalu, apa yang akan saya lakukan? Kata suami saya, saya harus melawannya. Yap! Saya akan melawannya! Saya tahu akan butuh waktu dan akan ada jatuh bangunnya. Tapi, bismillah saya harus melawannya! Bolehkah bila saya meminta doa dari Teman ReeNgan semuanya agar saya bisa melawan dua hal itu, menyingkirkannya dari hati dan otak saya? Terimakasih banyak ^_^

Btw, selama sebulan ini, alhamdulillah saya sudah membaca habis 4 buku (The Life Changing Magic of Tidying Up by Marie Kondo, Rindu oleh Tere Liye, 37 Jam oleh Stanley Meulen, dan Hati Yang Gembira Adalah Obat oleh Sophie Navita) dan masih menunggu 5 buku lagi yang masih belum saya baca. Saya mulai mengurangi barang-barang di rumah yang tidak saya pakai. Lalu saya juga mulai belajar memasak, hehehe. Dan yang terakhir, saya mulai menyapa teman-teman yang nomor HPnya ada di buku telepon saya, terutama yang menggunakan whatsapp. Pengalaman menyapa teman-teman ini membuat saya senang dan kembali bersemangat. 

Sekian curhat saya. Bapak saya selalu bilang, "Apapun masalah yang menimpa kamu, hadapi dengan baik dan jangan pernah lari dari masalah". Lalu saya tahu bahwa masalah saya hanya berat menurut saya, belum tentu orang lain juga berpikir seperti itu, makanya saya usahakan selalu curhat dengan suami saya mengenai apapun. Lalu, apakah saya akan balik lagi beraktivitas di sosial media? Mungkin iya, tapi tidak sesering dulu lagi. [] Riski Ringan

6 comments:

  1. semangat kembali mbak Riski..
    kembali ngeblog dengan sharing DIY umpamanya,
    aku suka sekali lihat posting DIY., namun belum berhasil ikut prakteknya he.. he..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aha, iya ya. Seperti DIY bikin pouch dengan jahit tangan gitu ya Kak. Boleh.. boleh. Terimakasih idenya ^_^

      Delete
  2. Hal yang sama pernah kualami juga, mbak Riski. Betapa diri ingin menjauh saja dari medsos. Semua berawal karena saya terlalu baper. Ya baper karena update status orang lain, ya baper karena komentar-komentar, postingan, juga tentang masa lalu yang tak sengaja memaksa hadir #ehhh.

    Lari dari masalah tidak menyelesaikan. Galau masih menghinggap. Saya harus realistis dan ikhlas. Hidup tetap butuh orang lain. Ya sudah. Saya harus lebih bisa mengatur rasa dan logika berpikir. Well done!

    *lha kok jadi curhat hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pukpuk Kak Nova..
      Saya juga pernah mengalami hal yang sama...

      Delete
  3. sama, mba.
    Aku juga sering jenuh nih di medsos. Apalagi fb. Paling cuma share postingan blog. Tapi itu juga udah jarang sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata banyak yang jenuh juga ya.. ^_^

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...