Saturday, 14 September 2013

Jamu, Warisan Budaya Berkhasiat yang Murah Meriah

Pada postingan saya terdahulu tentang Saya, Si Anak Singkong, disitu saya bercerita tentang penyakit yang saya derita dan proses penyembuhannya. Ada kata ramuan yang saya tulis disitu, ramuan yang terdiri dari tepung beras, tepung tapioka, kunyit, sirih, gula jawa. Kalau menyebut kata ramuan mungkin kesannya seperti mau melakukan sebuah ritual aneh ya, hehehe... marilah kita sebut ramuan itu sebagai jamu. Sebetulnya jamu itu apa sih? 

Kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), jamu adalah obat yg dibuat dari akar-akaran, daun-daunan, dan sebagainya. Badan POM menambahkan pengertian tentang jamu, yaitu bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut, yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman masyarakat Indonesia. Haduhh... kayaknya berat nih pembahasannya.. -__- Ah.. enggak kok, hanya cerita pengalaman saja ^_^. Jadi bisa dong ya kalau "ramuan" yang saya minum itu disebut dengan jamu? Bisa ya.. bisa ya.. 

Bahan jamu
(sumber gambar: www.konsultankolesterol.com)
Sebelumnya saya minta maaf, saya ingin anda sebentar membayangkan rasa dari jamu yang saya minum itu. Saya rasa hampir sebagian besar jawabannya adalah rasanya aneh, tidak tergambarkan *saya sok tahu. Ya bagaimana tidak aneh, kalau tepung beras dicampur tepung tapioka, kemudian ditambahkan air perasan kunyit, lalu direbus dengan air dan gula jawa serta sirih sampai mendidih, sesudah itu disaring, ditunggu sampai hangat dan siap diminum. Memang aneh rasanya saudara-saudara, saya saja masih bisa membayangkan rasanya sampai sekarang. Tetapi waktu itu, saya hanya berfikir untuk sembuh, saya sudah terlalu lelah membebani orang tua saya dengan penyakit anonim yang saya derita itu. Jadi walaupun sebenarnya hati dan mulut saya enggan untuk mengecap rasanya, otak saya terus memerintah tangan untuk menyodorkan jamu itu ke mulut saya. Alhamdulillah berkat jamu dan pijatan dari dukun pijat itu, saya sembuh.

Rasa yang aneh dari jamu itu mungkin adalah hal yang pertama dibayangkan oleh sebagian orang ketika mendengar kata jamu. Ada yang tetap meminumnya, ada juga yang enggan meminumnya. Padahal, jamu itu berkhasiat baik untuk tubuh, asalkan digunakan sebagaimana fungsinya, dan dosisnya sesuai. Maaf, sebelum adanya obat-obatan kimia, nenek moyang kita sudah mengenal obat tradisional, yakni jamu ini, kemudian racikan jamu tersebut diwariskannya kepada keturunan-keturunannya. Maka dari itu, saat ini jamu sedang didaftarkan di UNESCO untuk menjadi Warisan Kebudayaan Dunia dari Indonesia. Tidak hanya jamu yang berasal dari Jawa atau Bali saja, melainkan jamu dari Sabang sampai Merauke, karena pasti setiap wilayah di Indonesia mempunyai warisan budaya jamu ini (bisa anda baca di sini). 

Pedagang jamu di Yogyakarta tahun 1910
(sumber gambar: https://en.wikipedia.org/wiki/Jamu)
Sebegitu kerennya jamu ya. Karena memang banyak sekali manfaat dari jamu dan kemudahan memperoleh bahan-bahannya. Seperti jamu yang saya minum itu, semua bahan-bahannya ada di sekitar lingkungan rumah saya. Gula jawa ada di dapur, kunyit ada di kebun belakang atau di pasar, sirih, tepung beras dan tepung tapioka saya yakin ada di seluruh pasar-pasar tradisional. Bahan-bahan jamu saya itu memang sederhana, tetapi ternyata khasiat dibalik bahannya sudah teruji sangat baik untuk tubuh.

Singkong (Bahan tepung tapioka)
Dari sumber yang saya baca, setelah diteliti, singkong ternyata mengandung zat anti peradangan, antioksidan, antiradikal bebas, dan bisa berfungsi untuk membunuh cacing. Jadi singkong ini bisa digunakan sebagai obat demam, radang, sakit kepala, luka, dan cacingan.

Singkong
(sumber gambar: http://zeromind165.blogspot.co.id/)
Kunyit
Kunyit memiliki zat yang bernama kurkumin, yang memiliki khasiat sebagai antioksidan, antimikroba, anti peradangan terutama di saluran pencernaan, dan anti kolesterol. Mungkin itu sebabnya, masakan tradisional Indonesia berbahan daging kebanyakan dibumbui dengan kunyit, karena daging mengandung kolesterol, dan kunyit disini berguna untuk menurunkan kandungan kolesterol dalam daging, *wonderful ya Indonesia :)

Kunyit
(sumber gambar: http://www.caramenanam.com/)
Sirih
Siapa yang tidak tahu tanaman Sirih? Pasti sudah tahu semuanya ya, karena tanaman ini memang terkenal sebagai tanaman obat. Ternyata sirih itu mengandung zat betlephenol yang berfungsi sebagai zat pembunuh kuman, antioksidan dan anti jamur. Nah, makanya banyak sabun kewanitaan untuk keputihan yang bahan dasarnya adalah sirih, karena keputihan itu disebabkan oleh jamur. Selain keputihan, sirih juga berkhasiat untuk menghilangkan bau badan, menyembuhkan luka, dan gangguan saluran pencernaan, mengeluarkan dahak, meluruhkan ludah, dan menghentikan perdarahan. Super ya manfaat sirih ini..!!

Sirih
(sumber gambar: https://waroengorganik.wordpress.com/)
Tepung Beras
Nah, ternyata selain mengandung karbohidrat untuk sumber energi, beras juga mengandung selenium yang merupakan bahan dasar dari enzim glutation peroksidase. Enzim tersebut berperan untuk memecah zat peroksida yang bersifat racun dalam tubuh, sehingga zat tersebut menjadi tidak bersifat racun lagi.

Itulah sedikit kandungan dan manfaat dari bahan-bahan jamu yang dulu saya konsumsi. Banyak sekali kan kandungannya. Nah, apakah saya berhenti mengonsumsi jamu setelah saya sembuh dari sakit saya? Tidak, sampai sekarang saya masih mengonsumsi jamu, hanya saja jenis jamunya disesuaikan dengan penyakit atau gangguan yang saya derita. 

Mbok Jamu
(sumber gambar: http://sarrofi.blogspot.co.id/)
Jadi, teman-teman, setelah tahu khasiat jamu, yuk mari kita budayakan minum jamu, agar warisan budaya Indonesia yang satu ini tidak punah. Yang sudah rutin mengonsumsi, mari ajak saudara, tetangga, dan teman untuk ikut mengonsumsi jamu. Dan bagi yang belum mengonsumsi, mari konsumsi jamu, mulai dari jamu yang manis dulu seperti jamu beras kencur atau wedang jahe.

Seperti kata Kim Jong Kook di variety show Running Man :
"Mau sehat itu memang menyakitkan dan tidak enak, tetapi berfikirlah bahwa itu untuk kesehatanmu, maka hal itu tidak akan terasa menyakitkan untukmu ^_^"


Daftar pustaka :
  1. http://kbbi.web.id/
  2. http://ulpk.pom.go.id/ulpk/index.php?task=view&id=41&option=com_easyfaq&Itemid=26&lang=in
  3. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-info/501-info-jamu-as-world-cultural-heritage-2013
  4. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/610-herbal-plants-collection-singkong
  5. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/564-herbal-plants-collection-kunyit
  6. http://id.wikipedia.org/wiki/Sirih
  7. http://id.wikipedia.org/wiki/Beras

8 comments:

  1. Sayangnya sekarang ini banyak sekali beredar jamu-jamu yang diberi tambahan bahan-bahan yang malah menimbulkan penyakit. Seperti pengawet, atau kunyit yang digiling dengan campuran tertentu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Mak... banyak juga yg seperti itu, makanya saya selektif milih mbok jamu atau kadang bikin sendiri.. :)

      Delete
  2. saya suka jamu,sering dibuatin ibu jamu

    ReplyDelete
  3. Aku rajin minum jamo kalo abis ngelahirin aja, alhamdulillah langsing lagi :D Selebihnya jarang, bukan karena nggak doyan, tapi males bikin sendiri, dan males keluar untuk beli hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. wiiiiiii mau dong jamunya, bagi2 resep lah.. :)

      Delete
    2. Ada di tukang jamu.. tinggal sebut jamu habis melahirkan. Aku biasanya merk air mancur. Lengkap jamu untuk hari ke 1 setelah melahirkan sampe hari 40 klo gk salah.

      Delete
    3. itu khusus buat yg habis lahiran ya.. hehehe.. kalo ga salah namanya rapet wangi bukan? atau galian singset ya Mak? :)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...