Saturday, 16 August 2014

(Commuter Line) Kursi Prioritas & Bukan Prioritas

Banyak cerita klasik di Commuter Line (CL), salah satunya saya alami kemarin (sebetulnya sudah beberapa kali sih). Seperti biasa, saya pulang kerja menunggu CL, dan alhamdulillah tidak membutuhkan waktu lama. Kereta tidak penuh, tapi saya tidak kebagian tempat duduk, dan itu sudah biasa. 

Waktu di stasiun Manggarai, naiklah seorang ibu menggendong anaknya, dan satu keluarga dengan beberapa anak serta Omanya. Anehnya, petugas tidak memperhatikan itu, mungkin karena dia melihat ke arah lain ya. Saya tepuk petugasnya, "Mbak itu ada ibu gendong anak dan ada Oma". Dia pun langsung menuju kursi prioritas, tapi ternyata kursi prioritas sudah penuh oleh wanita hamil, begitupun kursi prioritas di gerbong campuran di sebelah. Si petugas seperti bingung, tidak berani meminta orang-orang yang duduk di kursi bukan prioritas untuk memberi tempat pada ibu dan Oma itu. Sampai sang anak dari Oma itu bilang, "tidak usah untuk saya, yang penting Ibu saya bisa duduk" (Oma itu memang tampaknya sudah tidak kuat untuk berdiri).

Tanda gambar di atas kursi prioritas (Sumber gambar)
Yang saya lihat, sudah 5 menit tidak ada yang berdiri untuk memberikan tempat duduknya. Lalu teman saya bilang "Kasihan banget ya Mbak, kalau kita dapat tempat duduk sih, kita berikan saja tempat duduknya." Lalu, ibu di sebelah kami pun ikut bicara, "Ya Mbak, masalahnya kursi prioritasnya sudah penuh semua." Dan saya dengan suara agak keras bilang, "Ya Bu, sebetulnya kalau yang lain masih punya HATI NURANI sih, nggak usah kursi prioritas pun mereka pasti ngasih tempat duduknya."

Saya tahu, mungkin kasusnya seperti orang yang kakinya kecelakaan yang koar-koar di Path itu, mungkin yang sedang duduk sudah sangat lelah sehingga tidak kuat untuk berdiri. Mungkin juga mereka sudah menunggu lama untuk mendapatkan tempat duduk. Tapi, apa salahnya ya kalau memberikan tempat duduk untuk yang lebih membutuhkan. Suatu saat, mungkin kita akan berada di posisi mereka. Saya yakin, masih banyak yang memiliki tenggang rasa, masih banyak yang tidak seapatis itu. 

Kalau yang saya lihat dari beberapa kali naik CL, mending kalau bawa anak atau orang tua, naiknya gerbong campuran saja. Masih lebih nyaman meminta laki-laki untuk berdiri, dan sepanjang pengalaman saya, laki-laki masih banyak yang mengalah kalau mereka sedang duduk di kursi prioritas. Walau kadang ada juga yang pura-pura tidur :(. 

Mungkin, pendidikan karakter di sekolah, belum terlalu terlihat dampaknya. Mungkin, perlu juga sekolah untuk orang tua yang mengajarkan bagaimana cara menanamkan tenggang rasa ke anaknya. Ini hanya opini saya, semoga saya bukan termasuk orang-orang yang tertidur ketika ada yang membutuhkan tempat duduk di CL, dan juga bukan orang yang suka mengeluh, amiin.

10 comments:

  1. hiks.... ya saya seringkali mengalaminya. kebetulan putriku adalah penyandang tunanetra, dan saat kami naik TJ terkadang harus menebalkan wajah dan meminta mereka yang duduk di kursi prioritas untuk memberikan kursinya untuk anakku. terkadang berhasil namun seringkali tidak

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah begitulah Mbak, kadang juga petugasnya kurang tegas. Semoga Mbak & putri Mbak diberi kesabaran seluas-luasnya, amiin.

      Delete
  2. Itulah sebabnya pelajaran pendidikan moral harus kembali digalakkan, salah satu contohnya dari PPKN. Miris rasanya bila melihat generasi sekarang kurang tumbuh rasa kepekaan dan sosialisnya Mak.. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya betul, saya setuju sekali kalau pendidikan moral itu harus kembali digalakkan. Bukan hanya untuk anak-anak, tapi juga untuk orang tua. :)

      Delete
  3. padahal setelah menolong orang itu ada rasa lega dan senang yang bercampur, namun semua tergantung hati nurani masing2

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, yah kalau sudah tertanam tenggang rasa sih Mbak, InsyaAllah semuanya akan mendahulukan yg prioritas. :)

      Delete
  4. Aku ga ngerti dengan fenomena aneh ini....
    sebegitu dalamnyakah luka borok yang akhirnya membusuk dalam hati setiap insan di bumi Indonesia ini?

    Thanks God, masih bisa bertemu dengan orang-orang baik di sepanjang perjalanan.. Amien yra

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah Te, diantara borok itu masih ada kulit yg halus bersinar walau kadang susah menemukannya. Beruntung kalau selalu mendapat kulit bersinar itu. Semoga borok itu cepat engering dan menjadi kulit yg halus bersinar, amiiin,

      Delete
  5. Kompleks sekali ya permasalahan naik CL ini mba, saya nggak bisa bayangin maupun komenin orang yg gak mau ngasih tempat duduknya itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Mbak, harus dilihat dan dirasakan sendiri. Sebetulnya masih banyak orang yang berbaik hati memberikan tempat duduknya untuk orang lain. Tapi yah itu dia, terkadang secara kebetulan bisa bertemu dengan orang yg tidak sedang baik hatinya :).

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...