Wednesday, 12 August 2015

Tips Persiapan Mudik Naik Kereta Ala ReeNgan

Assalaamu'alaikum.. ^_^

stasiun, kereta, mudik
Sepertinya agak telat saya menulis pengalaman mudik saya lebaran kemarin. Tapi sesuai dengan semangat berbagi, nggak ada kata telat.. hehe.

Lebaran kemarin saya mudik naik kereta api, sedang suami naik motor. Ya itu pilihan dia, padahal sudah saya paksa-paksa biar bareng naik kereta, tapi dia nggak mau.. :). Cerita mudiknya sebetulnya sudah saya bagikan di twitter saya @RiskiFi tepat  saat saya mudik. Saya bagikan lagi di sini ya..

Pertama yang saya lakukan adalah menentukan hari mudik dan balik (sejak 3 atau 4 bulan sebelum hari H). Biasanya kan kantor-kantor itu libur bersamanya H -3 dan selesainya bisa H +3 atau H +5. Karena saya kerja di bimbel (bimbingan belajar), jadi saya menentukan hari mudiknya H -3 dan baliknya H +7, hehe.

Kedua, pesan tiket kereta 3 bulan sebelum tanggal mudik dan balik yang ditentukan. Saat pesan tiket inilah saat yang paling mendebarkan, karena saya harus begadang lalu membuka website KAI untuk tiket yang kebanyakan jam 00.05 saja sudah langsung habis, *glek. Karena saya pesan sendiri jadinya paket internet saya perbarui dan menambah kuota serta kecepatan. Padahal ada lho website resmi penjual tiket kereta selain KAI. Kemudian kalau ternyata nggak dapat juga, kita bisa menunggu KAI mengeluarkan kereta tambahan lebaran, sekitar 3 atau 2 minggu sebelum lebaran. Namun, saya tidak mau spekulasi di kereta tambahan itu. Akhirnya, alhamdulillah setelah begadang dapat juga keretanya.. hehe.
Lucunya, setelah dicek, ternyata kereta yang saya naiki itu tidak lewat jalur yang saya kenal, melainkan memutar melewati Bandung, Cimahi dan Kroya.. Kyaaa... pantesan sampainya lamaa.

Ketiga, saya mengirimkan baju-baju yang nantinya bakal saya & suami pakai terlebih dulu. Karena di kampung, baju kami tidak seberapa serta takut sudah kekecilan. Hal ini juga dimaksudkan agar barang bawaan kami sedikit.

Keempat, seminggu sebelum mudik, kami packing dan membagi barang bawaan. Saya kebagian membawa baju-baju lebaran dan oleh-oleh untuk keluarga di kampung. Suami kebagian membawa laptop dan keperluan dia selama perjalanan mudik. Kenapa saya yang lebih banyak? Karena saya naik kereta, juga agar oleh-oleh itu cepat dibagi, hehe. Saya membawa 2 tas, satu kecil dan satunya lagi besar. Yang kecil isinya tiket + KTP, dan obat-obatan, tissue, uang transport & makan selama perjalanan, power bank full. Saya sengaja tidak bawa uang tunai dalam jumlah banyak karena saya sendirian, jadi uangnya tersimpan aman di bank. Tas yang besar berisi baju dan oleh-oleh. Power bank sebetulnya hanya untuk jaga-jaga misalnya stop kontak di kereta tidak berfungsi (sekarang di kereta, walau ekonomi ada stop kotan untuk charger atau laptop, insyaa Allah HP bisa tetap full baterainya).

Kelima, karena saya mudik sendirian, saya tidak membawa bekal makanan. Saya membeli makanan di dalam stasiun dan kereta yang harganya lebih lebih mahal. Sebaiknya sih, karena sekarang pedagang makanan dan asongan tidak boleh berjualan di dalam stasiun, jika anda pergi dengan keluarga lebih baik membawa bekal untuk alasan penghematan.

Itu cerita mudiknya, cerita baliknya tidak jauh berbeda. Suami saya balik lebih dulu (pas mudik, saya yang duluan), jadi dia yang membawa baju-baju dan laptop. Alasannya karena ada di tas jadi mudah dibawa dengan motor, juga karena saya yang membawa oleh-oleh segambreng pemberian orang rumah. Oleh-olehnya dibungkus pakai kardus jadi lebih mudah kalau saya yang bawa.

Alhamdulillah, mudik tahun ini lebih ringan dan mudah. Saya akui pelayanan PT KAI tahun ini lebih memuaskan dari tahun lalu. Kereta berangkat dan sampai tepat waktu, tidak ada penumpang yang berdiri atau duduk di selasar, keretanya dingin walaupun saya pakai yang ekonomi.

Eh iya, ada tambahan pengalaman saya. Untuk keperluan financial mudik, suami dan saya sudah menyusun anggaran dari setahun sebelum hari H. Jumlah anggaran kami kalikan dua untuk menyiasati pengeluaran tidak terduga. Anggaran itu sudah termasuk tiket pulang pergi, bensin dan service motor, uang makan selama perjalanan mudik-balik, angpao, beli oleh-oleh untuk keluarga di kampunh dan tetangga serta teman di Jakarta, kemudian anggaran lain-lain. Jadi kami tidak mengandalkan THR, karena perolehan THR kami kurang mencukupi kebutuhan mudik-balik.

Semoga tulisan in bermanfaat untuk Teman ReeNgan. Kalau Teman ReeNgan sendiri bagaimana pengalaman menyiapkan keperluan mudik dan baliknya? Cerita dong.. ^_^

4 comments:

  1. ya ampun mbak kemana aja, baru kelihatan :). Mohon maaf lahir batin ya mbak

    ReplyDelete
  2. mohon maaf lahir bathin juga ya mbak riski :)

    ReplyDelete
  3. Mudik emang seru banget meski ribet. Pengin mudik lagi hihiii

    ReplyDelete
  4. Jadi rindu dengan suasana mudik.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...