Thursday, 29 September 2016

Dari Yang Awalnya Marah, Jadi Berharap Ditanya: "Kok Belum Hamil?". Bisa kah? Bisa! ^_^

Assalaamu'alaikum...!! ^_^

Ihh... Tante hemezz banget deh ^_^

Postingan saya ini murni curhat karena pompa air lagi dibetulin, jadinya saya enggak bisa cuci piring atau baju T_T. Cerita kali ini akan lumayan menye-menye, so bisa tolong disediakan tissue (boleh tissue wajah atau tissue gulung) buat ngelap ingus, #eh air mata ding, hehehe.

Hari ini, saya teringat suatu obrolan di sebuah Selasa dengan seorang wanita yang saya baru saja kenal dan ketemu. Setelah ngobrol ngalor ngidul, kami ternyata punya kesamaan, yaitu belum dikaruniai seorang anak. Bedanya, saya sudah pernah merasakan hamil, sedang dia belum, dan usia pernikahan saya baru 5 tahun, dia sudah 6 tahun. Obrolan paling seru dan saya lihat dia berusaha menahan air matanya adalah saat dia bilang, "Saya sudah capek kalau ditanya Loe kapan hamilnya?, karena saya juga enggak tahu kapan saya bisa hamil. Apalagi pernah ada seorang teman yang bilang, Kalau gue lihat sih loe enggak ada masalah, masalahnya di suami loe. Saya enggak bisa terima, Mba, soalnya kan kami bikin anak bareng-bareng". 
I feel you, Mba, pakai ba.nget.

Dulu, pas tahun pertama setelah saya keguguran, berarti sekitar 2013, saya juga sering emosi kalau ditanya seperti itu. Hanya saja lain di muka lain di hati, muka saya berusaha ngasih senyum termanis, hati saya manyun parah. Dalam hati bilang, "Sudah cukup, Alfonzo, aku sudah enggak tahan lagi ditanya-tanya begitu!" #lebhaaayy. Pikir saya waktu itu, "Ini orang enggak ada kerjaan banget ya, tanya-tanya sesuatu yang sudah tahu jawabannya. Lha emang situ pikir bikin anak kayak ngerakit motor, siapin spare part trus rakit-rakit, jadi deh!". Saya sering nangis dan iri, kalau dengar kabar si A yang doyan merokok aja masih bisa hamil, si B yang belum nikah sudah tek dung duluan, atau si D yang baru sebulan nikah sudah langsung hamil. Apalagi kalau baca atau lihat berita tentang seorang ibu yang tega membuang anaknya karena enggak mampu ekonomi atau anak hasil hubungan gelap (bikinnya waktu mati lampu). Hati saya langsung bilang "Kalau enggak mau anak ya waktu bikin pakai pengaman dong, atau enggak usah bikin sekalian" Atau "Sini kalau enggak mau, anaknya buat saya saja!". Astaghfirullah.. Tapi beberapa menit setelah nggrentes, saya lalu mikir "Kalau anaknya untuk saya, si pembuang itu keenakan dong, nanti dia bikin lagi trus buang lagi."

"Ya Allah... betapa enggak bersyukurnya saya ternyata, Astaghfirullah!". 

Ceritanya, awal 2016, saya mulai melihat kehidupan saya dari sisi lain, terutama soal anak (Terimakasih buat Pak Kris yang ngajarin saya melihat hidup dari berbagai macam sisi). Saya pernah membaca arti dari satu ayat Al Qur an, surat Al Kahfi ayat 46 :

"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan"

Kemudian AHA! muncul di hati saya, "Yah, selagi saya menanti diberi amanah anak, lebih baik saya enggak meratapinya tapi mulai mengumpulkan amal yang banyak untuk bekal di akhirat nanti".

Sisi lain dari persoalan anak ini adalah saya tidak bisa menahan orang lain untuk bertanya seperti itu pada saya, kasarnya saya tidak punya ilmu totok lidah biar enggak bergerak. Mereka yang bertanya seperti itu, bukan berarti sedang mengejek (walau mungkin ada yang niat banget mengejek, terimakasih ya ^_^), tapi mungkin sedang memberikan perhatian buat kita. Saya amati, tiap selesai mereka bertanya "Kapan punya anak? Anaknya mana? Sudah punya anak belum?" Trus saya jawab sambil senyum "Belum, minta doanya ya semoga saya segera punya anak". Mereka akan langsung mendoakan atau bilang aamiin. Setelah saya pikir-pikir, "Oh iya, saya enggak tahu doa siapa yang akan langsung dikabulkan".

Pemikiran atau sisi lain yang ketiga, yaitu saya tiba-tiba merasa sangat berdosa ketika saya mulai menangisi kebahagiaan kehamilan orang lain, dan ketika saya mulai meratapi "ketidaksempurnaan" hidup saya karena belum punya anak. Saya sampai pada kesimpulan, SAYA ENGGAK BERSYUKUR, SAYA MENGINGKARI REJEKI LAIN. Saya mulai melihat dan mencatat nikmat-nikmat lain, selain anak, yang luput dari perhatian, seperti saya sudah pernah merasakan hamil, saya punya 5 ponakan yang lucu-lucu, saya punya suami yang baiknya minta ampun ke saya dan keluarga, saya punya teman-teman yang super perhatian dengan saya, saya punya dunia yang indah, saya punya tetangga yang enggak nyinyir, saya bisa ngeblog, saya masih bisa facebookan, twitteran, upload foto di instagram, saya tiap hari selalu bertemu dengan anak-anak yang tingkahnya membuat emosi saya naik turun tapi sekaligus membuat saya bahagia. SAYA MASIH DIKELILINGI OLEH KEBAHAGIAAN.

Dengan saya menulis ini bukan berarti saat ini saya sudah tidak mengharapkan kehadiran anak lagi, SAYA MASIH BERHARAP dan BERUSAHA. Seberapa besar harapan dan usaha saya dengan suami, tidak perlu semua orang tahu. Sekarang, alih-alih saya emosi bila ditanya "Anaknya mana?, Kapan hamil? Kok kamu belum hamil? Enggak mau punya anak ya?", saya justru berharap ditanya seperti itu. Agar saya bisa menjawab "Alhamdulillah saya belum diberi amanah anak. Saya minta doanya ya Mba, Mas, Bu, Pak, Nek, Kek, biar diberi amanah anak ^_^".

Teman ReeNgan yang belum dikaruniai anak, sudah cukup rasanya kita sakit hati oleh pemikiran kita sendiri. Enggak pantas kiranya kalau hati dan pikiran kita tambah tersakiti oleh pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Kita adalah manusia yang lebih sempurna dari mahluk lain, Insyaa Allah kita kuat. Coba cari dan catat semua kebahagiaan yang ada di sekeliling kita, iya dicatat, ditulis. Insyaa Allah banyaaak sekali. Tetap berusaha optimal, berdoa, meminta doa orang lain, dan pasrah dengan keadaan kita saat ini ya ^_^. Saat saya terpuruk, saya minta ngedate ke bioskop atau makan bareng suami, seperti orang-orang muda yang lagi pacaran. Atau Teman ReeNgan bisa ikut kegiatan volunteering atau kursus atau menyalurkan hobi dan bakat terpendam. Saya nangis, iya, tapi saya berusaha untuk tidak memikirkan hal yang buruk atau negatif. Karena selain ucapan, bagi saya, pikiran atau grentesan itu juga doa. Semangat ya Cyiin... keberadaan kita di dunia ini punya tujuan kok! ^_^ [] Riski Ringan

19 comments:

  1. Ambil nafas panjaaaang kemudian lepaskan.
    I feel you banget, Mbak.

    Kalau ada yang ngomong gitu tapi blm tau okelah. Tapi kalau tiba2 jadi
    sok tau dan nanya "kok lama amat sih?" Si adek aja udah, si anu udah. Kamu kapan?
    Saya cuma nyengir dan nanya dalam hati, 'kok tanya ke aku sih?'

    Tetap optimis, Mba ^-^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba Pipit, tetap optimis & ngumpulin amal sebanyaknya! ^_^

      Delete
  2. pernah ngerasain hal yang sama mbak,
    sebelum punya ubay
    aku juga pernah keguguran dan sering ditanya kapan hamil,
    sering sedih dan marah2 juga,
    anggap saja ujian kesabaran dari pertanyaan orang2 mbak
    karena pertanyaan macam itu gx bakal selesai bahkan setelah kita hamil,
    akan ada pertanyaan susulan sperti kenapa harus caesar, kenapa anaknya blm bisa jalan, belum bisa ngomong dll

    btw, semangat ya ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah sifat dasar manusia, suka kepo, hehehe.

      Delete
  3. sama kayak pertanyaan "kapan nikah?" "kapan dapet kerja?"

    sama2 males untuk dijawab, sabar ya mbak heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertanyaannya enggak habis-habis memang ya.. ^_^

      Delete
  4. Ini edisi khusus ibu2 rumah tangga. Yang muda2 numpang lewat aja mba

    ReplyDelete
  5. Semangat ya mba, Insya Allah ada rejeki nya segera dikaruniai momongan, aamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ya robbal'alamiin.. Terimakasih Mba Rieka ^^.

      Delete
  6. Makanya sebisa mungkin sekarang saya menghindari pertanyaan2 sensi seperti Kapan nikah, kapan punya anak...padahal semua itu jawabannya hak prerogatif Allah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mba ida. Saya juga sudah mulai menahan diri banget untuk tidak bertanya yang "kapan..kapan" itu. ^^

      Delete
  7. iya mbak .. dulu belum nikah pertanyaan yg tertuju selalu begitu .. kapan nikah .. sekarang sudah nikah, hmm siap-siap deh hehehe .. tapi menurut saya, jawab secara positif :) karena itu akan menjadi doa!
    Tetap semangat ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih Kak Ericka.
      Kita enggak bisa mencegah pertanyaan itu keluar dari mulut seseorang, makanya saya berusaha sebisa mungkin membuat pertanyaan atau pernyataan mereka menjadi doa yang baik untuk saya ^^.

      Delete
  8. Iya ya, Mbak. Memang harus berfikir lagi dari sudut pandang yang lain. Saya suka dengan artikel ini, menyadarkan kembali bahwa kita sebenarnya memang dikelilingi banyak kebahagiaan. Tinggal mau bersyukur atau tidak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba Ria, pada dasarnya kita ini selalu dikelilingi oleh kebahagiaan ^^.

      Delete
  9. Kejadian ini dialami temenku. :D Harus dishare ke dia nih

    ReplyDelete
  10. saya jadi teringat buku quantum ikhlas. saya ikut berdoa mbak semoga Tuhan mempercepat waktu menunggu anugrah itu datang, amin :)

    ReplyDelete
  11. Seringkali kita jadi terkungkung dengan pikiran-pikiran negatif yaa mbak, dan jadi mengikis keinginan untuk berpikir dari sudut pandang yg lain. Trimakasih untuk artikelnya 😊

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...