Monday, 21 August 2017

Mengurangi dan Menata Pakaian yang ReeNgan Punya dengan Metode Konmari

Assalaamu'alaikum...!! ^_^




Sudah lama sekali ya saya tidak update blog. Soalan itu disebabkan karena saya merasa bahwa pekerjaan saya sedang kacau dan tidak terjadwal dengan baik. 😢

Suatu hari, saya membuka lemari pakaian yang isinya adalah pakaian saya dan suami. Lalu saya mendapati diri saya kelelahan demi melihat tumpukan pakaian tersebut. Saya kok ya merasa kasihan dengan pakaian yang berada paling bawah ya. Pakaian itu seperti sedang menjerit meminta pertolongan karena tidak berdaya menahan beban yang sangat berat dari pakaian-pakaian di atasnya. Akhirnya saya berpikir, mencoba mencari cara bagaimana biar pakaian itu tidak bertumpuk. Selain karena saya kasihan dengan pakaian itu, saya dan suami juga kepayahan ketika harus mengambil pakaian yang paling bawah saat ingin memakainya. Jadilah biasanya pakaian yang paling bawah itu jadi tidak terpakai dalam waktu yang super lama atau bahkan tidak dipakai lagi.

Soal pakaian ini, saya sebenarnya sudah lama sekali ingin membereskan dan menerapkan metode Konmari yang saya lihat di youtube. Tapi saya terhambat pada jenis lemari yang saya punya. Bentuk lemari ini tidak memungkinkan saya untuk memraktikkan metode Konmari itu. Saya coba cari bentuk lemari yang bisa ditarik tiap kotaknya (bisa disebut dresser atau lemari kontainer) dan tempat yang ada gantungannya. Tapi guys, mahal guys harganya. Contoh lah di IKEA, model lemari yang saya mau, harganya sekitar 6-17 jutaan rupiah 😱. 

Ini model lemari yang saya inginkan. Satu bagian sebelah kiri saja sebetulnya sudah cukup. Psst.. yang ini harganya 17 jutaan rupiah lho! (sumber gambar: http://www.ikea.com/id/in/catalog/products/S09160027/)

Hari itu, keinginan saya benar-benar menggebu untuk membereskan pakaian-pakaian punya saya. Kebetulan hari libur, jadilah suami bisa sekalian membereskan pakaian-pakaiannya juga, hehehe. Walau sebenarnya sebelum puasa, kami sudah mengurangi jumlah pakaian yang kami punya sih, tapi kok ya kelihatannya masih banyak saja menumpuk di lemari. 

Saya mulai dari pakaian-pakaiannya suami. Saya keluarkan semua pakaiannya dari lemari, lalu saya letakkan di atas kasur. Kemudian saya biarkan suami memegang satu persatu pakaian dan memutuskan apakah dia masih suka pakaian itu. Nah, saya hanya kebagian memisahkan pakaian yang masih dia suka dan yang sudah tidak disukainya, serta sudah sangat kekecilan. Yang sudah kekecilan dan dia tidak suka, saya masukkan dulu ke dalam wadah. Sedang yang masih dia suka, saya tata berdasarkan kategori. Mulai dari kemeja kerja, kaos, celana, sarung, jaket, dan pakaian dalam. 


Setelah saya memilah-milah, saya diskusi dengan suami tentang tempat penyimpanan model apa yang paling tepat digunakan. Kami akhirnya memutuskan membeli lemari kabinet plastik (iya plastik, karena itu yang murah menurut kami) yang mempunyai 5 kotak penyimpanan. Kebetulan jarak toko peralatan rumah tangga dengan kontrakan kami tidak terlalu jauh. Kami membeli dua lemari kabinet merk Napolly seharga Rp230.000,00/buah.

Selagi suami bolak-balik membeli lemari pakaian, saya mulai membereskan pakaian yang saya punya. Sama seperti yang suami saya lakukan, saya pun memisahkan dulu pakaian yang masih saya suka dengan yang sudah tidak saya suka dan sudah tidak layak pakai. Lalu saya menggabungkan pakaian yang tidak saya suka dan sudah tidak layak pakai dengan pakaian suami yang tidak dia suka tadi. Lalu saya menata pakaian yang masih saya suka menjadi beberapa kategori seperti gamis, tunik atau kemeja lengan panjang, kaos lengan panjang dan kaos lengan pendek, kerudung segiempat dan kerudung instan, rok dan celana, mukena, serta pakaian dalam.

Sesampainya lemari itu ke kontrakan, suami dan saya merakitnya. Susah-susah gampang sih, hehehe. Sampai peluh itu mengalir tak henti, lumayan lah bisa buang lemak beberapa gram. Sebelum saya meletakkan pakaian ke dalam kotak lemari, saya alasi dulu dengan kertas bekas yang saya punya dimana bagian yang masih polosnya yang terlihat. Selain itu saya juga mengukur panjang dan lebar bagian dalam lemari. Setelah diukur, saya memotong kardus bekas wadah lemari dengan ukuran yang sudah saya tentukan. Jadi, lemari tersebut panjang dan lebar bagian dalamnya sama-sama 36 cm. Saya memutuskan untuk kemeja, celana, rok, dan gamis, potongan kardusnya sepanjang 22 cm, sedang untuk kaos, potongan kardusnya 17 cm. Potongan kardus bekas ini saya pakai ketika melipat pakaian untuk saya masukkan ke dalam lemari. Saat ini potongan kardus bekasnya masih polos, rencananya bakal saya bungkus kertas kado, hehehe.

Oh iya btw, suami juga membeli beberapa wadah plastik kecil untuk menyimpan celana dalam sehingga bisa ditumpuk. 

Hasilnya, seperti ini:

Pakaian kerja suami saya tata di kotak paling atas
Kaosnya saya tata di kotak kedua (di foto ini, kaosnya sudah ada yang dipakai)
Celana kerja dan celana rumah saya tata di kotak ketiga beserta wadah plastik untuk menata pakaian dalam (ada dua wadah, atas bawah)
Sarung dan kain saya tata di kotak keempat
Jaket dan sajadah tebal saya tata di kotak paling bawah

Mungkin ada Teman ReeNgan yang bertanya apa itu metode Konmari? Metode Konmari adalah metode penataan rumah yang ditemukan oleh seorang wanita warga negara Jepang bernama Marie Kondo. Dalam bukunya, Marie Kondo menjelaskan tentang cara-cara menata barang-barang di rumah secara urut sesuai kategorinya, dan alasan mengapa kita harus menata barang-barang di rumah. Saya coba menerapkannya. Saat ini saya baru menerapkan pada pakaian dan buku. Kebetulan, dua hal itulah yang harus ditata pertama kali.

Dalam menata barang-barang, Marie Kondo bilang bahwa kita harus mengumpulkan semua barang-barang yang sesuai dengan kategori tersebut di satu tempat. Lalu mulai memegang satu persatu barang itu dan bertanya pada diri sendiri apakah barang ini membawa kebahagiaan untuk saya. Jika iya, kita simpan, jika tidak kita singkirkan dari rumah dan bilang terimakasih kepada barang tersebut. Semudah itu sebetulnya. Namun, selain pertanyaan tentang kegembiraan, saya sendiri menambahkan  satu pertanyaan lagi, yaitu apakah barang ini akan terus saya pakai. Mengapa saya menambahkan pertanyaan itu? Alasannya karena sesuai dengan ajaran agama Islam yang saya anut, bahwa semua barang yang saya miliki akan saya pertanggungjawabkan di akhirat nanti. Jadi, pikir saya, walaupun saya menyukai barang tertentu, tapi jika tidak saya pakai atau saya fungsikan sesuai fungsi barang tersebut, maka barang tersebut akan jadi sia-sia.

Pada pakaian khususnya, Marie Kondo mengatakan bahwa pakaian harus ditata dalam keadaan berdiri agar mereka tidak bertumpuk. Karena setelah seharian mereka bekerja keras untuk melindungi kita, kemudian dibersihkan, dan kepanasan saat dijemur dan disetrika, mereka butuh istirahat. Marie Kondo juga mengajarkan cara melipat pakaian yang sebenarnya cara melipat itu sudah saya praktikan sejak kecil. Apa mungkin karena kami sama-sama orang Asia ya, hehehe. Namun, ada beberapa kendala pada beberapa jenis bahan pakaian, dimana bahan-bahan jenis poliester tidak bisa diberdirikan sesudah dilipat. Demikian pula dengan bahan yang tebal seperti sajadah tebal dan jaket tebal. Sebenarnya, bila jenis lemari pakaian yang saya punya itu ada tempat gantungan bajunya, maka saya akan menggantung pakaian berbahan licin dan yang berbahan tebal. Tetapi karena model lemari saya adalah kontainer, jadi saya menumpuknya. Seperti yang terlihat pada celana dan jaket milik suami.

Hehehe, btw kurang adil ya rasanya bila saya tidak memperlihatkan penataan lemari pakaian saya. Ini dia:

Ini gamis-gamis yang saya punya dan saya tata di kotak paling atas, sebetulnya di sebelah dalamnya masih ada lagi dengan posisi yang berbeda.
Sebelah dalam itu tunik & kemeja lengan panjang. Di depannya ada kaos lengan pendek. Keduanya saya tata di kotak kedua.
Ini koleksi kerudung saya yang saya tata di kotak keempat. Yang dalam wadah itu adalah pembalut bersih.
Ini adalah rok, celana dan mukena yang saya tata di kotak paling bawah (kelima).
Kotak ketiga berisi kaos putih lengan pendek dan pakaian dalam, yang tidak bisa saya publish di sini, hehehe. 

Lalu hasilnya bagaimana? Suami bilang, dia jadi lebih mudah mengambil pakaian yang dia mau dan dia jadi tahu seberapa banyak pakaian yang harus dia punyai. Jadi semisal ingin sekali membeli pakaian baru, dia akan mengeluarkan satu pakaian dari lemarinya. Mengapa? Saya sebetulnya sengaja memilih lemari ini karena ukurannya kecil, sehingga pakaian yang bisa dimuatnya tidak banyak. Dengan model lemari seperti itu saya harap bisa mencegah kami untuk belanja pakaian secara berlebihan.

Oh iya, lemari model ini kan lebih pendek dari lemari lama kami ya, jadi setelah berganti lemari, suasananya menjadi lebih terang dan lega. Beneran deh, ini ngaruh banget buat saya. Sayanya jadi ikut merasa enteng dan lega. 

Teman ReeNgan ada yang penasaran tidak, bagaimana dengan handuk dan spreinya? Kok tidak kelihatan. Trus bagaimana pula dengan buku-bukunya? Nanti saya bikin postingan tersendiri ya ^_^.

44 comments:

  1. Aku pernah menonton Youtube tentang Marie Kondo. Ia sampai berterimakasih pada baju/barang yang sudah digunakan, kemudian disisihkan. Di Sekolah bungsuku, baju yang sudah tidak layak bisa digunakan untuk bahan belajar. Misalnya saat hari batik, sekolah mengundang peneliti batik. Kemudian mereka membawa baju berbahan batik untuk mengenal motif batik. Kemudian diolah kembali. Paling ku ingat kakak kelas L, membuat alas makan dari bahan batik tersebut.
    Sampai sekarang aku berusaha melepas barang-barang di rumah yang tidak terpakai. Tapi lambat. Walhasil isi rumah masih banyak barang yang tidak digunakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia Mba, saya masih suka kebingungan dengan baju-baju yang sudah tidak kami suka atau sudah tidak muat lagi itu disalurkan kemana.
      Biasanya kami salurkan ke The Street Store, atau ke teman. nah yang kaos-kaos sudah jelek banget ya kami jadikan lap atau pel, hehehe.
      Enak juga ya Mba di sekolah ada program upcycle kain seperti itu ^_^.
      Tetap semangat, Mba!

      Delete
  2. Wah ... Baru tahu aku tentang metode ini. Jadi tambah rapi ya mbak Riski. Seneng melihatnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, jadi tambah rapi dan berasa enteng, hehehe.

      Delete
  3. jadi lebih rapi mbak Riski.., lebih gampang juga cari bajunya

    Mari Kondo itu hebat ya, ide seperti ini terkesan biasa banget, tapi nyatanya mampu buat lemari lebih rapi....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Kak, jadi lebih gampang cari bajunya.
      Iya sebetulnya idenya Marie Kondo itu sederhana banget. Malah ada beberapa yang sudah banyak dipraktikkan orang-orang.

      Delete
  4. nyusun bajunya berdiri gitu jadinya nggak ribet pas ngambilnya ya, mbak.

    ReplyDelete
  5. Udah lama tahu konmarie. Tapi belum pernah dikerjain. 😓

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mau saya bantuin, Kakak? Biar tambah semangat karena ada temannya.. ^_^

      Delete
  6. Sepertinya saya harus belajar nih.. langsung cus ke youtube nih, belajar lipat seperti di atas.. makasih ya mbak...

    ReplyDelete
  7. Sudah beberapa kali baca tulisan bloger yang praktek isi buku Marie Kondo.. Jadi penasaran sama bukunya.. TFS Mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah ada di gramedia, Mba. Di Indonesia, bukunya Marie Kondo diterbitkan oleh Bentang Pustaka. ^_^

      Delete
  8. aku tauuu konmari ini efek liat di youtube, saya cuma ternganga itu rapi banget dan rajin gitu, akku ada coba tapi enggak bertahan lama, tapi mau coba lg sih kedepannya teteupp :D

    www.leeviahan.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk mari coba lagi Mba.
      Aku juga kagum waktu lihat mereka-mereka yang praktik metodenya Marie Kondo ini. Bajunya buaaanyak banget, tapi trus langsung jadi rapi jali gitu. Malah ada yang selama 3-6 bulan ngeberesin satu rumah trus rumahnya jadi rapi banget. Aku jadi tersemangati pingin beres-beres juga. ^_^

      Delete
  9. Wah lgsg cari di youtube metode konwari. Semoga rapihnya tahan lama yah mba

    ReplyDelete
  10. Semoga bertahan lama yah mba rapinya. Hehehhe

    ReplyDelete
  11. Aku paling hobi beres2in baju, dan emang ngabisin waktu :D betul mba, kita cenderung ngambil baju di posisi paling atas, jadi yg bawah2 terlupakan. Metodenya keren, mau coba nerapin ke hijab2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, melipat trus merapikan baju-baju memang menghabiskan waktu. Tahu-tahu sudah sejam aja ^_^. Tapi begitu lihat hasilnya jadi rapi, ada perasaan bahagia ya Mba. Senang gitu mandangin lemari yang isinya rapi ^_^.

      Delete
  12. wah baru tahu dan mbak begitu rapih sekali, kalau disusun begitu bakal awut2an lagi kalau suamiku ngambil dia mah sukanya ambil baju ditarik dan sukanya bikn baju yg lain jatuh atau jd kusut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia Kak. Dulu waktu baju-baju kami masih ditumpuk juga sama seperti Kakak. Kadang saya dan suami kalau lagi capek banget suka ambil bajunya ditarik, jadi awut-awutan deh. Alhamdulillah sekarang enggak awut-awutan lagi ^_^

      Delete
  13. Kalau lemari pintu 3, misal, gimana mba? Ada penataan khusus gak ya, pengen bgt beberes, sayang ada yg gak dipake. Cuma kami belum punya lemari model kotak tarik, jadi pengen nyobain.. ngambil pakaian jd lebih mudah ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lemari 3 pintu itu modelnya ada gantungan bajunya kan ya Mba? Dan ada tempat yang dipakai untuk menata baju yang dilipat?
      Nah yang baju-baju kerja dan baju atau bawahan yang berbahan licin bisa Mba hanger lalu gantung di gantungan baju. Sedangkan untuk kaosnya bisa Mba lipat dan dimasukkan dengan posisi berdiri di dalam wadah.
      Misalnya tempat baju yang dilipatnya itu tinggi, Mba bisa bagi 2 atas bawah dengan memasang papan di tengah. Nah nanti kan satu kotak itu jadi bisa menampung 2 wadah.
      Terimakasih Mba... ^_^

      Delete
  14. Baru tau tentang metode ini, orang Jepang memang filosofi menghargai lingkungannya tinggi banget ya^^

    Btw, itu rapi bangetttttt, aku juga pengen nata lemari kayak gini deh, hehehe, makasih sudah menginspirasi ^^

    ReplyDelete
  15. mau coba ah... itu lipatnya digulung ya?

    aku biasanya menerapkan lipat gulung kalau Packing koper. ternyata bisa juga ya dibuat begini.

    TFS, Mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu dilipat Mba. Kalau digulung malah makan tempat nantinya ^_^.

      Delete
  16. Untuk pakaian dalam, saya sudah pake model gini lipatnya mak. Tp buat baju masih di tumpuk karena ya model lemarinya. Huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga apa Mba. Jika mengambil pakaiannya masih mudah & tidak berantakan, model ditumpuk pun tidak jadi soal sebetulnya ^_^

      Delete
  17. Waaah rapinya Mbak. AKu punya rak laci seperti ini di rumah, beberapa kali aku coba metode konmari, kenapa gagal di aku ya? awalnya emang terlihat rapi dan mudah untuk melihat mana yang akan dipakai, setelahnya kembali lagi dalam keadaan tumpuk menumpuuuk. Ada sich penataan jaket, aku masih pakai metode konmari, masih rapi karena jarang dipakaaai...

    Aku kudu sering lihat banyak orang yang menginspirasi seperti marie kondo dan mbak Riski nii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena makan waktu ya saat ngelipet baju dan meletakkan bajunya. Kan ada tuh jenis kain yang enggak mau berdiri. ^_^

      Delete
  18. saya juga lagi declutter rumah nih lagi coba metode konmari juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbaaa... sama-sama menyemangati yuk..! ^_^
      Aku mandeg di kertas nih, hiks. Ini baru mau mulai lagi yang komono tapi peralatan dapur dulu. Soalnya yang elektronik mesti & kudu melibatkan suami (banyakan barang eletroniknya beliau).

      Delete
  19. Itu bajunya posisi berdiri, dilipat atau digulung mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Posisinya dilipat trus diberdirikan, Kak.
      Tidak digulung ^_^.

      Delete
  20. Ya ampunnn bunda rapih sekali 😃. Beda banget ama saya huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk Bun, kita rapi-rapi rumah bareng-bareng...! ^_^

      Delete
  21. oh iya natanya juga bisa secara vertikal gitu yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Kak. Jadi meminimalisir ditumpuk. Cuma misalnya punya lemari yang ada gantungan bajunya, natanya beda lagi ^_^.

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...