Tuesday, 29 August 2017

Dari Mengisi Ulang KMT Felica di Loket Stasiun Sampai Menahan Kentut di KRL

Assalaamu'alaikum...!! ^_^


Kemarin (28 Agustus 2017), saya hanya naik KRL waktu pulang kerja. Berangkat kerjanya naik ojek online karena waktunya sudah mepet, hehehe. Saat itu seingat saya KMT yang saya punya, saldonya sudah mau habis, sekitar Rp15.000,00. Dimana bila ditap keluar di stasiun tujuan, maka saya akan dikenai denda, karena ongkos perjalanan saya dari stasiun keberangkatan sampai stasiun tujuan sebesar Rp3.000,00, sedangkan saldo minimal KMT harus Rp13.000,00. 

Biasanya saya mengisi KMT di stasiun tujuan karena di situ ada mesin isi ulang KMT (Insyaa Allah suatu saat saya tulis di blog ini ya), jadi saya tidak perlu mengantre di loket. Nah, malam kemarin, saya mengisinya di stasiun keberangkatan yang mesin isi ulangnya belum berfungsi, jadi saya harus mengantre di loket. Saya girang banget waktu sampai stasiun ternyata loket-loketnya masih kosong. Dengan percaya diri, saya langsung menuju loket yang ada tulisan KMT Reguler-nya. Saya serahkan uang dan KMT saya ke Kakak penjaga loket. Eh.. tapi trus si Kakak tertawa sambil menyerahkan KMT dan uang saya ke teman sebelahnya. Lalu dia bilang ke saya, "Ibu, kartu Ibu ini diisinya di loket sebelah ya ^_^". Saya pun bingung, karena saya sudah yakin sekali kalau saya tidak salah loket. Tapi saya nurut saja dengan Kakak penjaga loketnya. Saya pun ke loket sebelah, ikut mengantre. Alhamdulillah antrean tidak banyak.

Setelah KMT saya terima, baru saya ngakak menertawai diri sendiri. Ya ampun Teman ReeNgan, saya kan sudah mengganti KMT Reguler menjadi KMT Felica. Pantas saja si Kakak penjaga loket menyerahkan KMT saya ke loket yang ada tulisan KMT Felica-nya. 😂😂😂😂😂


Kemudian, saking buru-burunya karena KRL tujuan saya sudah mau datang, saya hanya mengambil KMT dan tidak sempat mengambil struknya. Pas nge-tap di pintu masuk, saya sekilas melihat jumlah saldo KMT yang tertera di layar pintu masuk setelah lampunya menyala hijau. Ternyata jumlahnya 2 kali lipat dari jumlah uang yang saya bayarkan di loket tadi. Trus saya mengingat-ingat lagi apakah saya sudah mengisi KMT sebelumnya. Dan... eaaaaa saya ingat, ternyata saya sudah mengisi KMT saya sebelumnya (sekitar hari Kamis, 24 Agustus 2017). Saya butuh Aqua segalon! 😪😪😪. Trus KRL yang datang itu sangat penuh, jadi saya mundur teratur menunggu KRL selanjutnya. Yah, itu biasa terjadi, sudah lari terburu-buru, eh ternyata KRLnya penuh atau ternyata hanya lokomotif lewat saja, itu sudah biasaa 😎😎.

Postingan terkait: Balada Mengejar Commuter Line

Alhamdulillah, KRL selanjutnya tidak terlalu penuh, malah cenderung kosong, walaupun tidak dapat tempat duduk. Saya pun masuk. Setelah 5 menit di dalam KRL, perut saya yang memang dari siang bergemuruh terus, mulai bikin ulah lagi. Saya pingin banget kentut. Tapi saya enggak tega dengan penumpang lainnya, jadi saya tahan saja, kebetulan stasiun tujuan saya tidak jauh (hanya 5 stasiun dari stasiun keberangkatan).

Ceritanya begini, pagi-pagi saya minum yogurt rasa blueberry. Trus sejam kemudian saya lupa kalau saya ini habis minum yogurt dan saya punya usus yang lactose intolerant (tidak bisa mengonsumsi banyak produk susu hewani), saya minum susu sapi rasa green tea satu gelas. Bisa diprediksi kan enggak perlu waktu lama bagi perut saya untuk bergemuruh dan seperti diaduk-aduk. Itu perutnya bisa enggak karuan selama seharian lho. Pas di kantor, bisa lah ke toilet trus kentut sepuasnya. Nah, di dalam KRL kan tidak ada toiletnya. Kasihan penumpang lain kalau harus menghirup aroma amoniak yang saya keluarkan, hehehe. Bisa dibayangkan kan betapa begahnya perut saya. Sesampainya di stasiun, saya langsung pulang dan mengeluarkan semuanya di toilet rumah, hehehe. 

"Ihhh... Riski kok ceritanya jijik banget sih!". Hehehe... ya inilah kehidupan. Kadang saya mengalami yang seperti ini. Tapi perbuatan saya ini jangan ditiru ya. Kentut, buang air kecil atau pun buang air besar itu jangan ditahan kelamaan. Bila kejadiannya di dalam KRL seperti saya, sebaiknya turun dulu di stasiun terdekat, trus langsung ke toilet. Insyaa Allah jika KRL kita bukan KRL terakhir, akan ada KRL yang lain di belakangnya kok. Untuk seterusnya, saya juga insyaa Allah tidak mau menahan kentut lagi kelamaan. Begahnya itu lho enggak ketulungan.

Itulah cerita saya kemarin waktu pulang kerja naik KRL. Di Jakarta memang masih ada stasiun yang belum mengaktifkan mesin isi ulang dan mesin pembelian THB, jadi kita harus jeli melihat tulisan di depan loket agar kita tidak kesasar seperti saya tadi. Teman ReeNgan yang pernah naik KRL di Jakarta, apakah punya cerita menarik? 😉.[] Riski Ringan

2 comments:

  1. 1. Assalamualaikum wr.wb.
    2. Saya baru tau mbak kalo kartu MRT ada limitnya, agak banyak juga ya 13.000
    3. Kadang kalo kepepet ngantri di tempat yg salah itu manusiawi kok mbaj
    4. hehehe, kalo perut itu gak bisa ditoleransi. Saya juga sering sendawa parah klo di bus
    5. KRL selalu rame ya, aku lama gak naek, pengen ke Bogor dari JKT
    6. Wassalamualaikum wr.wb

    ReplyDelete
  2. wah aku naik kereta ini kalau mau nengok anakku yg di BSD

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...