Friday, 27 December 2013

Misi Penyelamatan Kame Hame

Cerita ini saat saya masih ngekos di Sekaran, Semarang. Di kos dengan banyak kamar dimana satu kamar berisi dua penghuni tentunya sangat ramai. Masing-masing dari kami punya keunikan tersendiri. Kosan kami terdiri dari dua lantai, dan saya waktu itu menghuni salah satu kamar di lantai dua. Namun, dapur di kos hanya ada di lantai satu, jadi untuk keperluan masak, saya harus turun ke lantai satu. Ceritanya, kamar mandi lantai dua semuanya penuh, akhirnya saya memutuskan untuk turun ke kamar mandi di lantai satu (tenang, penghuni kos semuanya baik-baik, jadi tidak masalah mau mandi dikamar mandi mana saja). 

Melewati kamar mandi, saya melihat teronggok sebuah akuarium yang berisi air, tapi hanya setengahnya saja. Airnya sudah hijau, ahh.. kemana sih yang punya akuarium ini (sebut saja Nina), pikir saya waktu itu. Saya ketok-ketok kamar Nina, maksud saya, kalau dia jijik untuk membuang airnya, biar saya saja yang buang. Setelah beberapa kali saya ketok, dari mulai ketokan halus sampai ketokan brutal, tetap tidak ada yang menjawab. Sampai Tina (bukan nama sebenarnya), penghuni kamar sebelah Nina bilang kalau Nina sudah dua bulan tidak terlihat. Nina memang sendirian di kamar, dia membayar sewa dua orang agar mendapatkan kamar sendiri.

Seperti ini perbandingan warna air akuariumnya
(sumber gambar: www.kolambuatan.blogspot.com)
OOoooo... jadi boleh saya buang nih airnya ya. Saat mau membuang airnya, saya terkejut.. kok ada yang bergerak-gerak di permukaan air itu. Saya tidak langsung lari lah, saya amati terus menerus, lalu munculah kepala berwarna hijau bergaris-garis dengan tubuhnya ditutupi oleh cangkang, ya Allah... akuarium ini ada kura-kuranya... dua lagi. MasyaAllah Nina, kenapa dia tidak bilang ya. Berderai-derai air mata saya melihat kura-kura itu *yang ini lebay. Kasihan mereka, makan apa mereka dua bulan ini.

Singkatnya, saya lalu membawa kura-kura itu ke lantai dua, saya tidak jadi mandi. Saya ambil bak cuci yang ada di kos yang jarang dipakai. Saya beri sedikit air, karena kura-kura memang hidup didua alam kan ya. Salah satu sisi bak saya ganjal dengan kayu *senemunya apa yang buat mengganjal, agar ada dua alam di bak tersebut. Saya masukkan dua kura-kura itu ke dalam bak. Saya minta makanan ikan di tetangga kos. Saya beri kura-kura itu makan, lalu apa yang terjadi, mereka tidak mau makan makanan ikan. Whats...!!!

Kira-kira seukuran ini waktu Kame hame ditemukan
(sumber gambar: www.reptilx.com)
Juli pulang dari kuliah, dia memang penyayang binatang terutama kucing. Saya sedang sibuk di warnet, browsing-browsing makanan kura-kura. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Semarang bawah membeli makanan kura-kura. Saya pulang dari membeli makanan kura-kura, saya ke bak itu, Juli sudah ada di situ. "Kura-kura siapa? Kamu?" "Bukan, kura-kura Nina, kasihan ditinggal dua bulan. Kalau saya pelihara sampai Nina datang gimana ya?" "Pelihara saja, daripada mati.".

Akhirnya kami pelihara, kemudian kami beri nama, karena Juli suka anime, maka mereka saya namakan Kame Hame, satunya Kame, satunya Hame. Mereka semuanya jantan *hasil browsing juga di internet. Setiap hari Minggu, saya sikat cangkangnya dan membiarkan mereka berjemur.

Salah dua cara menentukan jenis kelamin kura-kura
(sumber gambar: www.indonesiaindonesia.com)
Hari itu datang, dimana saya harus memutuskan yang terbaik untuk Kame dan Hame. Kegiatan saya mulai sangat padat, dan saya tidak bisa membawanya pulang ke rumah karena Mama dan Bapa semuanya bekerja. Akhirnya Juli mengajukan dirinya untuk membawa Kame dan Hame pulang ke rumahnya di daerah Wonosobo *daerah ini saja ya, biar kelihatan dinginnya. Di rumahnya ada kolam. Perjuangannya membawa Kame dan Hame itulah yang patut saya acungi jempol. Dia memakai ember bertutup, membawanya naik bis dari Semarang ke Wonosobo, dia juga membawa seekor kucing yang dibuang oleh pemiliknya, nama kucingnya Maso. Melawan mitos yang kental, bahwa kalau di bis itu tidak boleh membawa kucing nanti ada sesuatu negatif menyertai bis itu, Juli dan adiknya tetap membawa mereka.

Sekarang, Kame dan Hame sudah tinggal dengan nyaman di rumah Juli. Ah... saya kangen sekali dengan mereka. Katanya sekarang mereka sudah gesit dan susah untuk disikat cangkangnya. Karena ukuran mereka sekarang berkali-kali lipat besar dari semula (harus dipegang dengan dua tangan). Kame lebih gemuk dan lincah dari Hame, tapi dua-duanya sama-sama sehat. Memang ya, lingkungan yang bersih dan cocok untuk habitat itu sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan binatang. Selamat menikmati hidup baru kalian Kame Hame, terimakasih Juli sudah mau menampung mereka.

Kame tahun 2012 (Juli's photograph)
Hame tahun 2012 (Juli's photograph)

Tulisan ini dipersembahkan untuk kura-kura adopsi saya yang kemudian diadopsi oleh teman saya Juli. Untuk Kame Hame, saya kangen sekali. T_T.

12 comments:

  1. awalnya saya fikir kame hame itu nama jurusnya goku di film dragon ball kak , soalnya namanya juga kame hame . hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. o my God.. saya lupa.. hehehe iya Dragon Ball.. Kame Hame saya namakan karena saya berharap mereka kuat dan menjadi jurus pamungkasnya Go Ku di Dragon Ball... Kaaaa... Meeee... Haaaa.... Meeeee... Haaaaaaaaa... :)

      Delete
    2. terimakasih sudah mengingatkan... :)

      Delete
  2. lucu.....unyu2....semoga Kame dan Hame sehat terus ya... dan selalu ingat ibu yang mengadopsinya hehehehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiiiin.. semoga sehat terus, hak asuh mereka sudah saya serahkan sepenuhnya pada Juli Mak, jadi ibu mereka sekarang Juli. Saya juga sudah tanya Nina, dia memperbolehkan Juli merawat Kame Hame.. :)

      Delete
  3. lho trs nina-ne piye kabare?
    jadi penasaran.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nina muncul 4 bulan kemudian, dia mengikhlaskan kura2nya kepada kami, eh.. ternyata kura2 itu dari ex nya... pantesaaaannn...
      ah tapi dia tidak boleh seperti itu ya, kewan yo nduwe roso.. mungkin kita harus punya perikehewanan karna mereka sebetulnya polos...

      Delete
  4. Wiiii lucu bgt kak! Saya dulu pernah punya kura2 sepasang. Dan...... tewas mengenaskan.
    visit hendrifahrezi.blogspot.com

    ReplyDelete
  5. aaeehh...keapa ga di terusin ngurusnya? keceehh bingit gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga memungkinkan Mak, saya di Semarang, kalo Kame Hame ditinggalin di rumah ortu di Brebes, disana ga ada kolam, Mama Bapa kerja semua, adik2 pada ngekos juga.. yg terbaik saja deh buat Kame Hame.. :)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...