Thursday, 26 December 2013

Per"jalan"an Yang Tak Terlupakan

Tertarik dengan GA yang diadakan oleh my itchy feet, sayapun lantas memikirkan dengan sangat serius, perjalanan mana yang kiranya akan saya tulis. Mengapa kok dipikirkan serius? Karena bagi saya setiap perjalanan, setiap tempat itu punya momen, punya ciri dan kenangan tersendiri. Bahkan untuk kota yang sama ketika kita datang dikali berikutnya pun, momen itu bisa berbeda. Lalu tiba-tiba memori ini mencuat ke permukaan otak saya yang tak seberapa ini, memori tentang kisah per"jalan"an saya dengan sahabat semasa kuliah dulu. Jadi, mohon maaf kalau gambar atau foto berikut bukan dari dokumen pribadi saya, melainkan saya comot dari beberapa sumber. Yah.. karena pertama, per"jalan"an itu tidak direncanakan, dan kedua, saya tidak membawa kamera, kemudian yang ketiga, HP saya dan dia waktu itu masih yang hitam putih *alhamdulillah sudah punya HP :).

Saya kuliah di Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang letaknya sekitar 6 jam perjalanan dengan kereta, bus, dan ojek dari rumah saya, jadi sayapun memutuskan untuk ngekos saja daripada dilaju PP Bumiayu-Semarang. Saya hanya sekali pindah kos, di kos yang kedua inilah banyak sekali kenangan perjalanan yang terjadi. Di kos yang kedua ini juga saya mempunyai banyak sekali teman dengan ciri khas masing-masing namun mereka tetap hangat dengan sesamanya. alkisah, saya berteman dengan seorang wanita berparas ayu, kulit sawo matang (dilihat dari punggung tangannya), tinggi semampai, dan berhijab, namanya Juli (sebut saja dia begitu). Juli dan saya saat itu adalah manusia aneh yang sama-sama punya pemikiran spontan yang terkadang sangat absurd (tepatnya sih sering ya.. :D).

Ini dia pintu gerbang UNNES kampus Sekaran (sumber gambar)
Seperti waktu itu, di tahun kira-kira 2007 atau 2008 (maaf untuk urusan angka tahun, sepertinya ruangan otak saya yang menyimpan itu sedang under recronstruction :D), saya dan Juli ada acara di UNNES bawah (dulu UNNES memang kampusnya ada yang di daerah Kelud yang dataran rendah dan di Sekaran yang perbukitan). Entah acaranya apa ya, saya lupa. Sepulang dari acara tersebut, kami menunggu angkot ke arah Sampangan, dimana nanti di sana kami akan lanjut naik angkot lagi ke atas arah Sekaran, desa dimana kos kami berdiri. Namun, angkot yang ditunggu-tunggu tidak juga datang, padahal sudah sekitar 15 menit kami berdiri duduk berdiri lagi duduk lagi. Tiba-tiba Juli mencetuskan suatu ide brilian yang membuat saya sejenak merenung. Idenya adalah, "Ki, bagaimana kalau kita jalan kaki saja sambil lihat-lihat mungkin angkotnya akan lewat?" Dan... "Oke deh..", jawabku setelah beberapa saat merenung.

Akhirnya kita berjalan kaki dengan riangnya, ngobrol ngalor ngidul tidak karuan, sambil melihat-lihat pemandangan sekeliling. Mata saya tertuju pada warung steak murah meriah dan kemudian merasa lapar, tapi godaan itu tak bisa menggoyahkan iman saya untuk terus melanjutkan perjalanan (ya iyalah kan warung steaknya ada di depan UNNES bawah, itumah belum jalan).

Perjalanan dilanjut, hingga tak terasa kami sampai juga di depan pom bensin Sampangan. Kaget dong, ya lah secara siang-siang di Semarang kami jalan kaki di pinggir jalan tidak berasa sudah 1 kilometer lebih lagi. Kami memutuskan untuk masuk ke dalam pasar Sampangan, yang ternyata kecil, tapi kami puas melihat-lihat saja (harganya lebih mahal dari yang di Sekaran, hehehe). Kami lalu mampir ke masjid di seberang Pasar Sampangan untuk menunaikan sholat dzuhur, karena kebetulan saat itu baru saja adzan dzuhur, ini pertama kali saya sholat di masjid itu, nyaman dan luas ternyata.

Perjalanan berlanjut lagi, kali ini mata kami sama-sama tertumbuk pada toko atau lebih tepatnya teras kecil yang dipakai untuk memajang dan menjual peralatan makan dari keramik. Woww... ya Allah, kami suka keramik :D. Akhirnya kami menyeberang jalan dan masuk ke toko tersebut. Tidak banyak memang koleksi keramiknya, karena memang itu adalah peralatan makan keramik yang tidak lolos quality control. Inginnya sih memborong semua, tapi kami harus jeli dengan jenis dan tingkat kecacatan keramik tersebut. Akhirnya setelah perdebatan dan hompimpa yang seru antara saya dengan Juli (karena kami seringnya sama-sama tertarik dengan barang yang sama), saya membeli satu mangkok dan satu piring dengan total harga Rp 10.000 :D (padahal itu bermerk lho, yang kalau tidak cacat satu mangkuk harganya bisa sampai Rp 15.000). Oh iya.. Juli berhasil membeli satu mangkok dan satu piring juga seingat saya.

Ini contoh jenis piring yang kami beli (sumber gambar)
Kami lantas melanjutkan perjalanan kami lagi, kali ini dengan muka ceria dan mata lebih menyipit karena suhu udara sepertinya menaik. Tak tahan dengan kehausan dan kelaparan yang kemudian melanda, kami lalu mencari warung makan. Warung makan yang kami lewati tampaknya tidak ada yang menarik perhatian perut kami, hingga mata kami lagi-lagi tertumbuk pada sebuah warung makan kecil berdinding gedek bertuliskan "Mie Ayam Sayuran, Sehat dan Murah" dengan gambar semangkuk mie ayam komplit dengan irisan daging ayam, sawi, sambal dan mienya tentu, tapi mienya itu berwarna hijau. Saat itu masih sangat jarang sekali mie yang berwarna selain kuning dan putih, jadi kami putuskan untuk masuk dan mencoba rasa serta kulitas dan kebenaran harga mie ayam itu :D. 

Seperti inilah kira-kira penampakan mie sayuran itu (sumber gambar)
Ketika kami masuk, suasana warung itu memang sepi, kami pun memanggil abang atau ibu penjual mienya. Lalu tak berapa lama kemudian keluarlah si abang penjual mie yang spontan membuat mata kami berhenti berkedip, mulut menganga, dan tubuh kaku seketika. Tidak.. kami tidak pingsan... kami hanya terpesona.. si abangnya cute abiiiiissss, di mukanya masih ada air yang membasahi, lantas dia berkata "Maaf Mbak, saya habis sholat, Mbak mau pesen apa?" Seperti ada bunyi doeng di telinga saya, seketika saya menjawab, "Ya mie ayam lah Mas, masa saya mau pesen ayam bakar di sini? Oh iya.. dengan es teh manis ya, dua semuanya." Sambil menunggu pesanan dibuat, kami melanjutkan obrolan kami yang entah tentang apa, yang pasti salah satu kalimat kami adalah memuji keimutan si Abang penjual mie dan ketaatannya beribadah. Singkat cerita, kami selesai makan lantas berjalan sebentar karena letak warung itu tidak jauh dari pangkalan angkot yang menuju ke Sekaran.

Kami menyusuri sepanjang jalan bertanda hijau itu (sumber gambar)
Perjalanan itu ternyata sangat lama, sekitar tiga jam kami menghabiskan waktu kami menyusuri jalan dari Kelud ke Sampangan. Namun, dari kelelahan kami dan panasnya udara saat itu, kami mendapatkan banyak sekali hikmah dan hiburan. Kalau kami tidak boleh menyerah oleh keadaan, buktinya walaupun panas, masih banyak orang-orang yang bekerja untuk memenuhi kewajiban mereka. Bahwa, dengan kita menyusuri kehidupan lebih intens, kita akan menemukan makna kehidupan itu. Bahwa dibalik kesusahan pasti ada kesenangan dan manfaat yang bisa diambil. Selain itu, perjalanan dengan kaki ini sangat murah, walaupun sepanjang jalan itu tidak ada tempat wisata, tapi per"jalan"an itu sendiri adalah wisata yang tak ternilai harganya untuk kami. Kalau kami sedang chatting  atau sms an, ketika salah satu dari kami mengingat kejadian itu, hanya ada kenangan manis yang membuat saya tersenyum lalu mengalirkan energi baru di nadi saya. Oke, jadi ketika anda menyusuri jalan, usahakan mata anda juga ikut mengamati kehidupan di sepanjang jalan yang anda susuri, pasti ada keunikan sendiri yang akan membuat anda bersemangat dan bersyukur menjalani kehidupan anda. :)

28 comments:

  1. eunak tenan y yang jalan-jalan....salam kenal aza

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuhuuu... ini baru yang disebut jalan-jalan... :D Salam kenal juga

      Delete
  2. Eh itu mie ijo nya yaa bikin ngiler, ijo nya beneran ijo dangdut ;-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu mie ayam yg dulu saya makan enak banget... :D

      Delete
  3. Kayaknya seru banget ya jalan-jalan di semarang, pengen sekali-sekali jalan kesana tp mesti bingung mau ke wisata mana hehe
    Blogwalking, visit back ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada banyak tempat wisata di Semarang, ada Bandungan, Candhi Gedhong Songo, Lawang Sewu, Masjid Agung Jawa Tengah, ada kebun kopi Banaran, trus klenteng Sam po Kong, Gereja Blendhuk, Tanjung Mas, trus apalagi ya.. oh iya, Simpang Lima (sekalian wisata kuliner di sini).. :)

      Delete
  4. Ortuku pernah tinggal di Semarang 2th. Sayang enggak tau ada abang imut ya hahhahaaa *njuk ngopo?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nek ortune Mbak Lusi neng Semarang, lha Mbak Lusine neng ngendi?? hehehehe...
      Abang2 itu beneran imut lho Mbak.. duhh..
      astaghfirullah.. saya kan sudah bersuami....

      Delete
  5. Per"jalan"an yg penuh arti ya... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul.. :D intinya kalau kita enjoy, semuanya bakal indah..
      (eh habis itu saya minta tanggungjawab Juli untuk mijitin saya, karna badan pegel2 hehehe... )

      Delete
  6. kalau pakai angkot, enggak bisa nemu yg seru2 kaya gitu yah :)
    duh itu piring keramiknya cantik...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, kalau angkot kan jalannya cepet.. hehehe.. ya mirip seperti itulah piring dan mangkuknya, cuma ada cacat ga rata catnya saja... :)

      Delete
  7. Di musim liburan ini..tadi punya niat ke tp bule di semarang..karena ada satu hal..jadi batal ke sana :)

    ReplyDelete
  8. seruu..meski badan pegel pegel ya mak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget... pegel pegel nya pake banget, tapi memang asyik sih, saya jadi menemukan tempat membeli murah barang kesukaan saya :)
      Terakhirnya itu lho, ah mak nyess langsung dingin waktu beli mie ayam itu... hehehe...

      Delete
  9. Ngiler mi ijonyaaaa.. huhuuuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. mie ijonya enak lho, apalagi yg nglayanin abang2 imut.. hehehe
      *dulu kan saya masih single.. :D

      Delete
  10. perjalanan yang mengesankan .

    kunjungan perdana kak , follow sukses :)

    ReplyDelete
  11. Kok gk ada spoiler gimana rasa mie-nya? Saking cute si abangnya ya, Mak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe... lupa.. tapi sudah saya jawab dikomen Mak, mienya enak...

      Delete
  12. Aaaakkkk belum jalan-jalan ke Semarang. Selama ini hanya sekdar lewat doang. Itu yang bikin tertarik sama piringnya. Kalau dipajang lucu juga kayanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. emang keramiknya eksotis2.. tapi saya kurang tau sekarang ibu itu masih jualan tidak... :)

      Delete
  13. memang jalan tanpa kuliner itu ga seru ya mak...mi sayurannya menarik mata....yuk travelling lagi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya apalagi ini beneran jalan kaki.. jauuuhhh.. kalau tidak kulineran bisa dehidrasi kayaknya... hehehe.. tapi tetep kulinernya milih2 dong.. :)

      Delete
  14. ini beneran jalan yaaa....kayaknya porsi jalan kakaiya banyak dan sehaaat ;D...apalagi ditutup dengan mie ijo yang cihuuuy bangeet :D...thanks for joining my GA..serunya berItchyFeet ria dan menikmati negeri..cheers...

    ReplyDelete
    Replies
    1. beneran jalan kaki... sekitar 3-5 kilo gitu, panas2 lagi.. panasnya Semarang kan cihuy.. hehehe tapi seneng kok, bisa beli piring keramik murah yg sampe sekarang msh ada, trus beli mie sayuran sama ketemu abang yg imut.. :D

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...