Sunday, 1 December 2013

Saya Ingin Kembali ke Solo

Bengawan Solo...
Riwayatmu kini...
Sedari dulu jadi perhatian insani...

Sedari kecil saya sudah menyukai lagu Bengawan Solo ciptaan dari Bapak Gesang ini. Hingga akhirnya saya mendengar dari berita-berita di TVRI kalau lagu ini sangat dikagumi oleh masyarakat luar negeri. Saya menjadi sangat teramat suka.

Solo (ibukota Kota Surakarta), bagi keluarga kami (kelahiran dan keturunan Jawa Tengah), adalah sebuah kota dimana merupakan pusat bahasa Jawa dan segala unggah-ungguhnya (sopan santun). Kata Mama saya, suatu saat kamu harus ke Solo, minimal untuk melihat-lihat kehidupan di sana. Saya penasaran. Namun, apa dikata saya tidak ditakdirkan untuk menimba ilmu di Solo. Tetapi saya tetap penasaran dan ingin melaksanakan amanah dari Mama saya.

Ketika saya kuliah di Semarang, saya mempunyai teman dari Sukoharjo (Kabupaten Sukoharjo berbatasan langsung dengan Kota Surakarta), dan teman saya itu adalah seorang wanita yang sangat lembut, dan tidak pernah berkata kasar. Haduhhh... saya semakin jatuh hati dengan Solo.

Saat semester IX (akhir tahun 2009), setelah sidang proposal skripsi, saya mempunyai banyak waktu luang. Keinginan saya untuk ke Solo sudah tidak terbendung lagi. Akhirnya setelah saya sms-an dengan teman saya di Sukoharjo, ternyata dia juga sedang luang dan dengan senang hati memperbolehkan saya untuk datang ke rumahnya, sayapun berangkat ke Solo, sendirian. Ya.. sendirian... dan karena modalnya sedikit sekali waktu itu, hanya Rp 100.000,-, saya memutuskan untuk backpacker, yang penting saya bisa ke Solo.

Bermodalkan rute perjalanan yang dismskan oleh teman saya, saya berangkat ke Solo. Dari Semarang, tepatnya di Ungaran, saya berangkat menggunakan bus ekonomi jurusan Solo (saat itu ongkosnya Rp 12.000,-), sampai di terminal Tirtonadi. Terminal Tirtonadi ini saya tahu lewat lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Suasana Solo langsung terasa di sini. Mungkin bagi kebanyakan orang akan merasakan biasa saja sama seperti terminal lainnya. Bagi saya, saya akan mendengar lagu keroncong atau campursari berkumandang di tape-tape atau radio-radio milik bus atau warung, ahhh.. menenteramkan, bisa mengobati penat saya setelah perjalanan.

Saya kemudian melanjutkan perjalanan lagi ke rumah teman saya yang terletak di belakang Pasar Kepuh. Kalau dari terminal Tirtonadi berarti harus naik metromini jurusan Wonogiri, ongkosnya Rp 3000,-. Saat itu saya betul-betul tidak tahu arah, yang saya tahu saya harus bertanya. Saya bertanya pada petugas terminal metromini yang ke arah Wonogiri, dan alhamdulillah petugas ini ramah sekali menjawab pertanyaan saya. Di dalam metromini, saya juga meminta diturunkan di Pasar Kepuh, dan sopir metromini tersebut benar-benar menurunkan saya di Pasar Kepuh, ahh... kekhawatiran saya hilang seketika. Saya dijemput oleh teman saya, lalu kami ke rumahnya. Di rumahnya, saya disambut dengan senyuman lebar oleh orang tua dan adik dari teman saya yang saat itu juga sedang liburan.

Malamnya saya baru tahu kalau sekitar dua minggu lagi, teman saya ini mau menikah. Ya Allah... saya kaget dan terharu serta merasa bersalah. Dua minggu lagi mau menikah, tapi masih memperbolehkan saya untuk berkunjung dan nantinya dia akan menjadi tour guide saya selama di Solo, lantas orang tuanya juga bilang tidak apa-apa. Hiks...

Besoknya, jam 9 pagi, saya diajak ke Solo oleh teman saya itu, naik motor. Saya sangat menikmati suasana sepanjang jalan selama perjalanan. Kotanya, walaupun ramai tapi tetap terkesan tenang dan bersih (walaupun sebenarnya hari itu adalah hari pertama ditahun 2010). Banyak sekali saya lihat bapak ibu tua muda bersepeda. Beberapa kali saya melihat nenek dengan pakaian khasnya batik dan kemben serta rambut tergelung menggendong bakul dengan isinya, ada yang bunga mawar, sayuran, atau tumpukan kain. Oh iya... teman saya ini juga sedang punya urusan di Solo, jadi sekalian dia mengajak saya jalan-jalan, dia mau mencari uang kuno untuk maharnya.

Ditengah perjalanan, tepatnya di daerah perempatan yang kalau belok kiri berarti ke kota Solo, ban sepeda motornya bocor. Untunglah tidak jauh dari situ ada tukang tambal ban. Sembari menunggu tambal ban, saya bertanya sungai yang tadi dilewati (tidak jauh dari perempatan) itu sungai apa. Dia jawab itu sungai Bengawan Solo. Deg... jantung saya berdebar, mulut saya menganga. Itukan yang lagunya saya suka. Saya lantas meminta izin untuk melihat-lihat Bengawan Solo dari atas jembatan. Ahhh... lagu itu terus bernyanyi di kepala saya ketika saya melihat-lihat Bengawan Solo ini.


Bengawan Solo...
Riwayatmu kini...
Sedari dulu jadi perhatian insani...
Musim kemarau...
Tak sebrapa airmu...
Di musim hujan..
Air meluap sampai jauuuhhh...
Mata airmu dari Solo...
Terkurung gunung seribu...
Air mengalir sampai jauuhh...
Akhirnya ke laut...
Itu perahu...
Riwayatnya dulu...
Kaum pedagang selalu...
Naik itu perahu...

Sayangnya saya tidak bisa berlama-lama bertemu dengan Bengawan Solo, kami harus melanjutkan lagi perjalanan kami. Tapi sebelumnya, saya sempat memotret sebuah plang penunjuk jalan yang unik :).

Bisakah anda membacanya dalam waktu 1 menit?
Masuk kota Solo, saya kembali disuguhi pemandangan yang mempesona. Bersih, ada patung emasnya juga, dan suasananya sangat nyaman, slow but sure, serta tidak ada kemacetan. Suasana ini tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, hanya bisa anda rasakan jika anda mengunjunginya.

Setelah menanyakan harga uang kuno yang ternyata mahal, dan jika menggunakan uang kuno semua, maharnya jadi lebih mahal, akhirnya teman saya tidak jadi beli uang kuno. Kami lalu jalan-jalan di kompleks Keraton Surakarta. Ternyata di pendoponya sedang digelar Pekan Pusaka Budaya Nasional, kami tertarik lalu membeli tiket masuk seharga Rp 5000,-. Siang itu hanya ada pameran saja. Walaupun demikian, saat itu saya lihat pengunjung pameran tetaplah banyak. Pusaka yang dipamerkan kebanyakan adalah keris, tombak, dan ada seperangkat gamelan. Disini saya baru tahu kalau keris itu ada bagian-bagiannya, dan bahan pembuatan keris ternyata tidak hanya logam saja, melainkan ada yang dari batu meteor. Waaaahhhh.... ternyata pusaka tradisional bangsa ini begitu mengagumkan.

Seperangkat gamelan pengiring pertunjukan wayang kulit
Puas melihat-lihat, kami pun memutuskan untuk pulang. Yaa.. saya tidak enak juga dengan teman saya, walaupun dia menawari saya untuk berbelanja di pasar Klewer. Hehehehe... saya kan minim dana, jadi saya sangat puas walaupun hanya melihat hiruk pikuknya dari sepeda motor.

Di tengah perjalanan, teman saya berhenti, dia mengajak kami makan siang di sebuah rumah makan besar (karena tempatnya luas dan ada pertunjukan musiknya). Haduhh.. pikiran saya langsung khawatir, mahal enggak ya. Menu yang disajikan banyak sekali sampai saya bingung, ada selat solo, sup matahari, tengkleng, sate Solo, dan nasi timlo. Akhirnya saya memesan nasi timlo komplit khas Solo dengan teh manis hangat. Nasi timlo ini seperti perpaduan antara sup dengan soto, isinya ada telur rebus, suwiran ayam, jamur kuping, wortel, kecambah dengan kuah bening yang gurihnya pas, dimakan dengan nasi putih dan emping. Nasi timlo ini tidak sempat saya foto karena ternyata saya sudah lapar. Ketika membayar, lagi-lagi kekhawatiran saya langsung lenyap, seporsi nasi timlo itu hanya Rp 8000,-. Sudah enak, kenyang, murah lagi.. :).

Itulah perjalanan saya di Solo, esoknya saya pulang ke Semarang dengan membawa sejuta kenangan. Dalam hati, saya ingin kembali lagi ke Solo. Kotanya tenang, nyaman, bersih, dan ternyata walaupun kelihatannya sangat tradisional, tetapi ternyata sistem pemerintahan dan pelayanan masyarakat di kota Solo ini sudah modern. Silahkan berkunjung ke http://surakarta.go.id/ .

Perjalanan saya itu terjadi 3 (tiga) tahun yang lalu, tetapi kenangannya masih membekas jelas terpatri di ruang memori saya yang tak seberapa ini. Jujur, saya ingin sekali kembali ke Solo, ingin di sana lebih lama dari sebelumnya karena masih banyak sekali tempat yang belum saya datangi di kota Solo, masih banyak ilmu hidup yang belum saya pelajari dari masyarakat Solo. 

Semoga ada lagi kesempatan itu.

Berikut dokumentasi saya, di buku kenangan saya sebelum saya mempunyai blog ini.




14 comments:

  1. Saya juga pingin banget ke Solo lagi..

    ReplyDelete
  2. cuma pernah lewat aja ketika k jatim,, bsk lusa pengen backpacker-an, pengen wisata sejarah..Insha Allah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiiin semoga berjalan lancar, daerah Semarang, Solo, Yogyakarta itu memang surganya backpacker.. :)

      Delete
  3. saya belum pernah benar-benar ke Solo mbak.. paling cuma lewat saja.. sukses kompetisinya ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga suatu saat bisa benar2 menikmati Solo ya.. :)

      Delete
  4. saya pernah sekali ke solo.. udah lma banget waktu mau k pacitan.

    sukses y mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagaimana Mak, kesannya? :) Terimakasih juga Mak Hana... :)

      Delete
  5. kenanganku tenang solo gak ada mbak, soalnya udah lama banget gak pernah kesana

    ReplyDelete
    Replies
    1. waahh.. sayang ya,, semoga bisa kesana lagi Mak.. :)

      Delete
  6. Kalau saya sih, ingin berkunjung ke Solo dan menikmati kuliner serta wisatanya ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe... sama dong.. sambil menikmati kuliner sambil melihat kehidupan masyarakat Solo... :)

      Delete
  7. Solokotok...kamu banyak nyanyinya yah...yuk naik panggung ajah dulu, baru jalan2 ke Solo lage ma aku :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuk ah yg pernah ke Solo, kita main2 lagi ke Solo... :D

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...