Tuesday, 2 September 2014

Tips Mengatur Keuangan Pribadi

Sebetulnya saya belum ahli-ahli banget untuk masalah ini. Saya hanya ingin sharing tentang pengalaman saya merasakan luka-luka lebaran dan bekerja tanpa membuahkan hasil yang nyata. Oh ya, cerita berikut ini adalah cerita tentang saya dan uang hasil kerja saya, tidak dicampur dengan uang suami ya, hehehe. Tapi bisa kok diaplikasikan untuk semuanya :).

Ceritanya, bulan Agustus kemarin, kondisi keuangan pribadi saya mepet sekali, bahkan perlu disubsidi oleh suami untuk urusan transport, padahal biasanya tidak. Belajar dari hal itu, saya kemudian pergi ke toko buku untuk mencari buku manajemen keuangan rumah tangga (hehehe... waktu itu hanya baca, maklum kan lagi tongpes). Nah, ini betul-betul saya rasakan manfaatnya, karena saya tidak hanya membaca buku tentang manajemen keuangan, tetapi juga cara berinvestasi kecil-kecilan. Yaaa... hitung-hitung untuk bekal kesejahteraan di hari tua atau untuk biaya anak nantinya :).


Saya akhirnya mengikuti saran dari beberapa buku yang saya baca waktu itu, yaitu untuk keras pada diri saya sendiri, maka InsyaAllah nanti dunia akan lunak pada saya. Memang sesekali keras pada diri sendiri, boleh kan ya? Kan ada tujuannya.

Ini nih, beberapa tips yang sekarang sedang saya jalani, untuk pemula seperti saya :)

Tulis Semuanya.
Tulis semua pemasukan tetap dan pengeluaran pokok. Kalau misalnya pemasukannya tidak tetap, misalnya dapat uangnya harian, tulis pemasukan paling kecil dalam satu hari lalu dikalikan 30 hari. Pengeluaran pokok tiap orang itu berbeda, saya contohkan dari saya ya :), seperti zakat, hutang, bayar kontrakan, bayar listrik, tabungan berencana, biaya transport, makan siang, pulsa. Bisa saja untuk yang mengelola uang pasangannya ditambah dengan biaya belanja bulanan, belanja dapur, PAM, sekolah anak, biaya transport/bensin suami, biaya kesehatan, biaya lain-lain (untuk keperluan mendadak). Tulis saja semua lengkap dengan total uangnya, dan jangan digelembungkan. Nanti kita bakal tahu apakah ada sisa uang atau besar pasak dari tiangnya.

Langsung Transfer.
Untuk biaya yang bisa ditransfer seperti listrik, PAM, pulsa, bayar kreditan motor/mobil, tabungan berjangka, asuransi, dan lainnya, usahakan langsung ditransfer. Hal ini mencegah kita berfikir "masih punya uang" sehingga pengeluaran malah akan ngorot.

Masukkan Dalam Amplop.
Ya, pisah-pisahkan semua uang untuk berbagai keperluan sehari-hari dalam amplop yang terpisah, lalu tulis di luar amplopnya. Ada yang "Bayar Hutang ke Fulan", "Belanja 1", "tranport 1", dan lainnya. Kalau saya, untuk biaya transport dan makan siang, saya bagi perminggu. Nah, kalau uang untuk jatah minggu pertama habis, jangan ambil uang untuk jatah minggu berikutnya. Berarti saya akan puasa untuk hari itu. Ini juga menjadi semacam pembelajaran disiplin bagi kita untuk menahan diri dari godaan "shopping" yang kejam :D.

Menabung.
Hehehe... mungkin ini klasik, tapi manjur lho. Kita harus punya minimal satu tabungan yang tidak diambil dalam jangka waktu yang lama. Tabungan HARUS, saya namakan demikian, karena saya mau tidak mau harus atau dipaksa untuk menabung. Kita bisa memanfaatkan tabungan berjangka seperti tabungan pendidikan, tabungan berencana, atau deposito, dan asuransi. Sebelum membukanya, tanyakan lebih dulu ya ke pihak CS banknya, dan hitung bareng-bareng dengannya. Kalau saya sih tidak perlu bunga yang besar, yang penting uang tabungan saya tidak berkurang dari jumlah seharusnya, hehehe. Tabungan lain bisa juga dalam bentuk emas. Caranya, sisihkan uang tiap bulan untuk membeli emas, barang 1/2 atau 1 gram, nanti kalau sudah terkumpul 5 atau 10 gram, tukar emasnya :). Kalau sudah banyak emasnya, bisa untuk beli tanah. Hehehe.. ini saya dapat pelajaran ini dari Maknya suami saya, InsyaAllah sedang saya praktikkan, minta doanya ya :). Oh ya, sama ini kalau mau mencuci beras, ambil dulu beras satu jimpit/genggam, lalu simpan di wadah tertentu ya, setiap 2 atau 4 minggu diambil beras jimpitannya.

Puasa.
Hah.. ada puasa segala ya. Tenang.. puasa di sini tidak mengikat untuk puasa menahan lapar dan haus, tapi lebih ke puasa menahan hawa nafsu. Hawa nafsu untuk beli gadget terbaru, tas merek tertentu, atau sekedar makan-makan di restoran mahal. Tapi, bukannya kita tidak boleh melakukan hal itu, boleh saja, asal uangnya berasal dari uang sisa belanja kebutuhan sehari-hari yang kita tabung, hehehe.

Bawa Bekal.
Sumpah ana zuzur.. saya sebulan ini rutin mempraktikan bawa bekal ini setiap hari dan ternyata memang irit. Bekalnya tidak harus lengkap nasi dengan sayur dan lauk pauk, bisa bawa nasi saja, atau lauk pauk saja. Biasanya saja bisa menghabiskan minimal 10.000 untuk makan siang dengan nasi, sayuran dan telur/ikan, sekarang saya hanya menghabiskan maksimal 8000 untuk membeli sayuran, daging, dan ikan.

Masak Sendiri
Mungkin bagi sebagian orang, apalagi yang mempunyai aktivitas padat, masak adalah salah satu momen istimewa alias langka. Namun, masak lauk dan sayur sendiri, apalagi untuk keluarga besar itu bisa mengurangi pengeluaran dalam belanja harian lho. Apalagi kalau mempunyai kulkas, bisa irit sekali. Selain itu, kita tidak perlu was-was tentang kebersihan dan nilai gizi makanannya, karena kita sendiri yang memasaknya. Jangan takut gagal atau tidak enak, karena memasak itu adalah suatu kebiasaan. Nanti kalau sudah biasa juga bakalan enak sendiri masakannya.

Irit tapi Tidak Pelit.
Boleh irit sekali untuk pengeluaran, tapi jangan pelit. Seperti tidak peduli gizi bekal yang dibawa, pokoknya murah. Tetap memberikan hadiah untuk teman dan sedekah untuk para dhuafa. Kalau urusan zakat atau sedekah, tolong jangan ngepas, lebih baik dilebihkan. Karena sesungguhnya zakat dan sedekah itu membersihkan harta kita, dan itu juga sebetulnya adalah hak mereka kaum dhuafa. InsyaAllah harta kita tidak akan berkurang kok, mau bukti? Yuk sedekah yang ikhlas ^_^.

Konsisten dan Persisten.
Setelah tahu itu semua, yang terakhir adalah konsisten melakukan tips tersebut. Percaya deh, akan banyak sekali godaan untuk menghentikannya, tapi ada cara untuk melawan godaan itu, yakni BUAT TARGET. Target seperti saya ingin jadi tuan tanah, saya ingin jadi bos, saya ingin mendirikan lembaga pendidikan, atau apa saja target di dunia ini. Siapkan target itu setinggi langit, lantas konsisten dan persistenlah untuk menggapainya. Kalau saya saat ini targetnya adalah saya ingin jadi tuan tanah, hehehe.. boleh kan memiliki target dunia :).

Semoga sharing saya ini bermanfaat ya. Kelihatannya susah, tapi coba dulu saja deh, InsyaAllah mudah. Karena ternyata keluarga saya di kampung lebih bisa menabung dari pada saya yang di kota ini, huaaaa... Dan setelah saya tanya-tanya, mereka juga sudah mempraktikan tips-tips saya di atas, walau tidak semuanya. Dengan perencaan keuangan yang tertata, dan konsisten, InsyaAllah tujuan untuk kesejahteraan di dunia akan tercapai, amiiin.

20 comments:

  1. Belum nyoba yang dimasukkan amplop itu, Mba. :D

    Berasa banyak uang kalau banyak amplop. Wkwkwk

    Ikut hidup hemat aah. . .

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk.. banyak amplop tapi jangan cuma amplop kosong Dah..
      Coba aja deh, tapi yang amplop itu kebutuhan sehari-hari aja.. :)

      Delete
  2. aku masukkan ke dalam amplop tapi gak konsisten mbak :) lama-lama amplop habis aku pakai

    ReplyDelete
    Replies
    1. itulah godaan sistem amplop ini Mak.. tergoda utk membukanya.. Ayok Mak konsisten, InsyaAllah bisa.. :)

      Delete
  3. nice tips selama ini saya kalau ngeluarin duit ga pernah nyatetin..hehe.. tau tau abis aja...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe.. saya juga ga pernah nyatet kalo yg kecil2, nyatetnya diawal aja, pas mau gajian dicattet semuanya :)

      Delete
  4. Sebagian sudah saya terapkan, seperti memisahkan dengan amplop. Untuk pengeluaran belum bisa, karena amat tidak menentu. :D #masihmahasiswa

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe.. saya lupa belum mencantumkan pengeluaran biaya lain2. Kalau saya biasanya biaya lain2 itu mencakup biaya kondangan, urunan jenguk teman, tiba2 pengen kebab.. hehehe.

      Delete
  5. Tipsnya mantap surantap mak. Ini buat lomba blog Anugerah Caraka ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh ada lomba ya? wah saya baru tau.. ubek2 dulu lah.. hehehe

      Delete
  6. Aku kadang catet dan masukkan dalam amplop tapi yasuka ngga konsisten :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuk Mbak, aku temenin belajar konsistennya.. :)

      Delete
  7. Saya baru berfikir dan memulai menabung sendiri tahun ini mak. Biasanya ush keenakan apa2 dr suami, nabung jg belio yg nabung yg aku terima ya habiskan. Heuheuuuu...skg ngga lg deh, seorg istri tetep hrs pny tabungan pribafi jg -____-

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener Mak, tetep harus punya tabungan sendiri, biar sewaktu-waktu juga bisa bantu keluarga kalo ada keperluan mendadak... :)

      Delete
  8. Duuuh...rapih bangeett!! pengen bisa kayak gitu juga :)

    ReplyDelete
  9. Masukkan dalam amplop aku sempet jalanin, tapi on off. Memang riweuh sih ya.. duit bececeran, tapi aku ngerasain sendiri, emang lebih terkontrol sih. Ahhh mau lagi deh begini abis gajian ini.

    Btw mak Riski, aku ijin link di blog ku ya. Kalau berkenan, aku seneng banget kalo bisa tukeran link :) Suka konten2 blogmu!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe.. itu malah jadi kesenangan tersendiri buat saya dan suami. Tiap habis terima gaji, langsung tuker2 dengan uang kecil terus dibagi2 dalam amplop. Kami anggap lagi mainan sesuatu aja, hehehe... :)

      Delete
  10. Aku juga biasa masukin ke amplop -amplop mbakk...

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...