Friday, 10 October 2014

Nostalgia Layangan

Kenal lagu ini nggak?

Ku ambil buluh sebatang
Ku potong sama panjang
Ku raut dan ku timbang dengan benang
Ku jadikan layang-layang

Siapa cung yang belum pernah main layangan? Sini main bareng dengan saya. Sedari kecil, saya suka sekali main layangan. Bapa yang pertama kali mengajari saya bermain layangan. Bahkan dulu juga suka membuat layangan sendiri. Kalau layangannya bisa terbang dan seimbang, girangnya bukan main.



Biasanya sudah mulai banyak layangan itu bulan-bulan Agustus sampai September. Kebetulan halaman depan rumah saya adalah lapangan rumput yang lumayan luas. Dulu masih banyak anak-anak yang bermain di sana seperti sepak bola, voli, tikus kucing, kelereng, lompat tali, dan layangan. Nah, kalau sudah musim kemarau, dimana angin sudah mulai kencang, lapangan depan rumah akan didominasi oleh anak-anak yang bermain layangan. Mereka membawa layangan yang sudah diikat dengan benang, dan benangnya digulung di kaleng bekas susu cair.

Dimulai dengan menerbangkan layangan (Jawa = abur), bisa berdua dibantu teman ataupun sendirian. Kalau dibantu teman, teman akan membawa layangan kita jauh dari kita dan berlawanan dengan arah angin. Benang layangan jangan sampai kendor, kemudian dalam hitungan ketiga teman tadi melepas layangannya dan kita menghentak-hentakan benangnya sampai layangan bisa terbang. Nah, kalau sendirian, kita mengulur benang layangan pendek saja, kemudian berlarian berlawanan dengan arah angin sambil menghentak-hentakkan benang layangan sampai layangan dapat terbang. Seringnya saya bermain bergantian dengan adik.

Saat musim layangan seperti ini, ada juga anak-anak yang membawa kayu panjang untuk mengambil layangan yang kalah aduan. Yaps.. bermain layangan tidak hanya untuk kesenangan, tetapi ada juga layangan aduan. Jadi dua layangan diadu, siapa yang duluan putus. Sebetulnya ada tekniknya, tapi waktu itu saya tidak mempelajarinya. Banyak juga yang memakai benang gelas agar bisa memutuskan layangan lawan. benang gelas ini teksturnya mirip benang jahit tapi lebih kasar dan tajam. Hati-hati dengan benang gelas ini, karena bisa melukai kulit. Saya pernah mengadu layangan, sengit sekali dan deg-degan, soalnya itu melibatkan taktik dan kesabaran. Alhamdulillah pernah menang dan pernah kalah, hehehe.

Ceritanya tahun lalu saya menjajal lagi kemampuan saya menerbangkan layangan. Yuhuuu... alhamdulillah masih bisa, walaupun tidak lama terbang karena saat itu arah angin sering berubah. Seru banget bernostalgia lagi dengan permainan masa kecil yang menyenangkan, menyehatkan, dan membuat kita berfikir, bagaimana caranya agar layangan kita bisa terbang tinggi dan lama :). Yuk main layangan, tapi jangan di pinggir jalan ya, cari lapangan saja :).

2 comments:

  1. Artikelnya bikin saya inget kampung dan inget masa kecil...sedih..

    Salam dari Pulau Dollar

    ReplyDelete
    Replies
    1. aih... kok sedih sih. Jangan sedih, yuk main layangan, cari lapangan :).

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...