Thursday, 2 October 2014

#SundaySharing 9 : Tips Menulis Agar Dilirik Penerbit

Yap.. inilah banner Sunday Sharing ke-9, dengan materi "Tips Menulis Agar Dilirik Penerbit. Nara sumber Sunday Sharing ke-9 ini adalah Mbak Nunik Utami, yang saya kenal setelah bersama-sama menghadiri beberapa event offline. Ternyata Mbak Nunik adalah salah satu penulis produktif yang sudah menerbitkan lebih dari 50 judul buku baik fiksi maupun nonfiksi, woww.. keren ya. Sebelumnya, pada Sunday Sharing ke-8, saya diminta menjadi ketua kelas Sunday Sharing ke-9 ini. Tahu nggak kalau kembang api yang disulut saat tahun baru itu bunyinya seperti apa? Begitulah bunyi jantung saya saat itu. Saya yang masih seumur jagung dalam dunia blogging dan tulis menulis ini jadi ketua kelas acara blogger.. :O Namun, alhamdulillah ada Mbak Tri Sapta wakil ketua kelas, Mak Haya, Mbak Nunik dan pihak blogdetik yang saling membantu :).

Oke eniwe baswe.. Acara dimulai jam 11.15 WIB, padahal Mbak Nunik sudah datang dari jam 10.20 WIB :). Diawali dengan beberapa patah kata dari saya dan Mas Fayyas (sebagai perwakilan dari blogdetik). Lalu langsung ke penyampaian tips menulis agar dilirik penerbit oleh Mbak Nunik. Dan de..deng.. ini nih tips menulisnya.
Nunik Utami
(sumber gambar: http://blog.detik.com/)
Lomba..lomba.. dan lomba
Bagi seorang penulis, mengikuti lomba itu penting, apalagi lomba menulis, kenapa? Agar kemampuan menulis kita terasah dan kita bisa tahu kemampuan kita sudah sampai mana. Jangan takut kalah, malah jadikan itu sebagai motivasi untuk terus menulis yang lebih baik lagi. Selain itu jadinya kita siap kalau sewaktu-waktu kita mengirim naskah lalu naskah kita ditolak, semacam sudah biasa :). Tipsnya mengikuti lomba adalah pelajari temanya, lihat jurinya (untuk mengetahui gaya kepenulisan yang disukai oleh juri) dan lihat penyelenggaranya. Walaupun naskah lomba kita kalah, jangan bersedih hati, siapa tahu naskah kita memang tidak sesuai dengan tema lomba tapi menarik untuk diterbitkan, kata mbak Nunik.

Jadi Teman
jadilah tean penerbit atau salah satu editor, sesekali RT atau memberikan komentar di statusnya, tapi yang selow saja. Jangan memberikan kesan SKSD (Sok kenal sok dekat), apalagi sampai memaksa untuk menerbitkan atau mengedit naskah kita.

It's Time For Jaim
Jaim (jaga image) di sini adalah saat kita mengumbar status di media sosial. Tulislah status-status yang baik dan memotivasi. Sangat disarankan untuk menghindari media sosial saat kita sedang marah atau kesal, karena mungkin nantinya akan membuat status yang tidak positif. Balik lagi ke lomba menulis, kalau kita menang lomba menulis, tulislah status yang santun dan biarkan dunia tahu kita menang lomba (syukur kalau ada penerbit atau editor yang melihat status kita). Namun, kalau kalah, lebih baik jangan menulis statusnya, biarkan kita sendiri yang introspeksi, apalagi menulis status yang menjelekkan penyelenggara lomba, oh that's a big no no.

Wajib Kepo
Kepo atau keinginan untuk mencari tahu wajib sekali dimiliki oleh penulis. Keponya ada dua, kepo tentang dunia di sekitar kita sebagai bahan untuk menulis dan kepo tentang jenis dan gaya tulisan setiap penerbit. Kalau kepo yang pertama itu wajib banget ya, nama lainnya adalah riset, agar tulisan kita seolah nyata dan pembaca bisa terbawa mengimajinasikannya dengan mudah. nah kalau kepo yang kedua ini penting kalau kita ingin mengirimkan naskah yang sudah kita tulis, enaknya kalau naskah seperti itu akan dikirim ke penerbit mana ya :).

Ayo Serbuuuu!
Setelah kita menulis cerita, dan sudah kepo. Kata Bang Aswi menambahkan kalau kita sebaiknya punya tabungan naskah. Nah satu naskah langsung lah dikirim ke penerbit yang gaya kepenulisannya sesuai dengan naskah kita itu, sebaiknya pula mengirimnya dalam bentuk hardcopy. Lalu kita beritahukan via email atau DM atau inbox kalau kita sudah mengirim naskah atas nama siapa. Tunggu sampai sebulan, kita cek lagi ke penerbit tentang bagaimana nasib naskah kita. Kalau semisal ditolak, kita minta tarik naskah kita, lalu kirim ke penerbit lainnya. Selama proses menunggu itulah, kita manfaatkan untuk menulis cerita yang lain lagi.

Awas, diserbu balik!
Nah, semisal kita sudah menerbitkan satu judul buku, kemudian kita sudah mengirimkan beberapa naskah ke penerbit atau ke media massa seperti koran atau majalah lalu naskah kita terbit. Siap-siap lah diserbu oleh penerbit yang menginginkan naskah cerita lagi dari kita. Disinilah manajemen waktu, komitmen dan konsistensi kita diasah.

Ani Berta saat sesi tanya jawab
(sumber gambar: http://blog.detik.com/)
Setelah penyampaian materi, lanjut ke sesi tanya jawab. Peserta antusias sekali dalam menyampaikan pertanyaan seputar penerbitan naskah. sesi tanya jawab ini dilakukan dua kali. Diantara sesi tanya jawab, panitia mengadakan games. Karena acaranya tentang menulis, ya gamesnya tidak jauh-jauh dari kepenulisan, yakni games kosa kata. Sekitar 11 hadiah berhasil diboyong oleh peserta. Berhubung hadiahnya masih ada 5 lagi yang belum dibagikan, Mbak Nunik memberikan pertanyaan seputar Sunday Sharing ke 9.

Pemberian bingkisan dan foto sesi dengan ketua waka baru :)
(sumber gambar: http://blog.detik.com/)
Sunday Sharing ini berakhir sekitar jam 14.15 WIB, setelah itu dilanjutkan dengan pemilihan ketua kelas untuk Sunday Sharing ke 10, dan terpilih Elisa Koorag sebagai ketua kelas dan Mbak Hanni Handayani sebagai wakil ketua kelas Sunday Sharing ke 10, selamaaat. Untuk Sunday Sharing ke 9 ini, kami -saya dan Mbak Sapta- mengucapkan terimakasih banyak untuk blogdetik, Mbak Nunik dan para peserta, serta mohon maaf karena masih banyak kekurangan. Sampai bertemu kembali di Sunday Sharing ke 10 :).

Peserta Sunday Sharing ke-9

6 comments:

  1. Replies
    1. iya, aplikatif tipsnya, selain terus mengasah kemampuan menulis... :)

      Delete
  2. tipsnya oke bangettt..makasih mak^^

    ReplyDelete
  3. Wah seru ya acaranya mak. Selamat untuk ketua kelasnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mak, seru :). Terimakasih Mak Lusi :).

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...