Wednesday, 15 January 2014

Mengumpat

Hari ini saya pulang dengan riang, tidak seperti biasanya yang belum belum naik bus sudah membayangkan macet dan berdesak-desakkan dulu lalu bete. Langkah kaki saya terasa ringan, saat melintasi jembatan penyerabangan antar halte, dan oo... apa yang saya lihat? Antrian panjang kendaraan yang tidak terlihat ujung pangkalnya. Macet sodara-sodara...

Karena hati saya sedang riang, jadi saya maklum saja, mungkin karena hujan jadi banyak kendaraan yang jalannya pelan-pelan. Dan sayapun mengantri untuk bisa masuk bus. Karena macet, so pasti antriannya panjang kan ya. Tidak sengaja, karena menghindari tong sampah di sebelah kiri saya, saya menyenggol mbak-mbak di sebelah kanan saya ketika kami maju. Wiiii... langsung terdengar kata-kata mutiara dari mulut cantiknya yang digerakkan kekiri dan kekanan.. "Biasa aja kallee, ga usah dorong-dorong gitu, ntar juga kebagian" Saya bengong, tapi salah saya waktu itu adalah saya tidak minta maaf ke dia. "Mbak bermulut cantik, saya sekarang minta maafnya ya.. maaf sudah sedikit menyenggol badan Mbak yang langsing itu." (ini saya serius minta maafnya, memang dia bibirnya bagus, dan badannya langsing).

(sumber gambar: www.getacoder.com)
Tidak berapa lama, sayapun mendapatkan bus, lantas di halte kedua setelah halte tadi, ada ibu-ibu paruh baya menggandeng kedua anak laki-lakinya yang berusia mungkin 6 dan 7 tahun (atau mungkin lebih besar sedikit). Apa yang saya dengar pemirsah... "Bang..bang ini anak saya dulu dibantuin masuk kesitu!! Sudah kedinginan nungguin lama banget!!" Itu bahkan pintu busnya belum terbuka sempurna. Dan ketika sudah masuk, kaki sayapun terinjaknya dengan sangat keras (sakit banget sumpah), spontan saya berteriak, tapi sepertinya dia tidak merasa ya, karena sudah sibuk dengan "nyanyian merdunya" alias umpatan yang beraneka ragam. Ada yang dimulai dari huruf "A", "B", dan lain-lain (saya tidak mendengar lebih lanjut karena sudah kesakitan). Ada satu kalimat yang saya dengar "Tau begini mendingan tadi naik taksi saja, repot tau bawa-bawa anak!!".

Apakah membawa anak itu memang betul-betul merepotkan? Saya pikir tidak merepotkan ya, mungkin si ibu itu hanya kecapaian saja. Namun, menurut saya tidak baik menyampaikan hal itu di depan anak-anak apalagi ditambah dengan umpatan-umpatan. Ketika menyampaikan bahwa anak itu menyusahkan, si anak punya pikiran juga kan, dia akan berfikir kalau dirinya itu memberatkan untuk orang lain, lantas dampak secara tidak langsungnya, mungkin suatu saat nanti dia akan menjadi manusia yang minder, dan kurang percaya diri. 

Nah, mengumpat di depan anak kalau menurut saya sih sama dengan merampas hak anak untuk mendapatkan keindahan dunia mereka. Umpatan pasti didengar oleh anak, anak itu spons kan, otak mereka menyerap apapun yang ada di sekitar mereka dan pasti akan ditiru (seperti postingan saya yang ini). Kalau ada orang yang lebih tua apalagi ibunya mengumpat seperti itu, mereka akan beranggapan itu boleh dan tidak berdosa, nanti besarnya mereka mungkin akan memelihara kebiasaan itu (jika kebiasaan itu dilakukan terus menerus). Apakah umpatan itu diterima oleh orang lain? Tidak, bahkan umpatan, walaupun mungkin itu hanya candaan pasti akan menyulut setitik kemarahan bagi orang yang diumpatnya. Kalau dampak yang lebih besar bisa menimbulkan perkelahian. Wow... segitunya ya dampak umpatan pada anak.


Jadi, ini postingan untuk saya juga, Riski.. kamu usahakan jangan pernah mengumpat ya, baik di depan anak kecil maupun di depan orang lain, bahkan di depan diri kamu sendiri. Karena Allah sudah menciptakan mulut dan pita suara ini dengan sedemikian indahnya, jangan kamu rusak dengan umpatan yang jelek itu.. OKE? :)

12 comments:

  1. Setuju itu.. ngapain mengumpat-ngumpat.
    kalau kecapek an sebaiknya pikirin aja hal indah yang bakalan terjadi. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, menjatuhkan citra diri juga di depan oranng2... :(

      Delete
  2. TFS, Mak :)
    Aku dulu rajin banget tuh maki-maki, sampe ibuku bilang, "Emangnya kalo kamu maki-maki gitu, masalahmu selesai?"
    Tamat :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya betul, masalahnya malah bakalan tambah runyam deh kayaaknya...

      Delete
  3. ini bener2 selfnote buat saya mbk...jangan sampai memaki2,berkata kotor,dll..naudzubillahi mindzalik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga Mbak Hana, duh kejadian kemarin bener2 pelajaran deh buat saya..

      Delete
  4. Aku termasuk yang suka bawa anak kemana-mana mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan tidak repot kan Mak? justru bisa jadi temen ngobrol.. ;0

      Delete
  5. hidup emg kadan terasa berat banget ya. rasanye pengen ngumpat, banting2 barang, marah2. but nothing lasts forever not even our anger and sadness. jd dalam kondisi tertekan, sebaiknya diam. drpd buka mulut lalu menyesal kemudian.

    *menasehati diri sendiri, hihihi*

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya.. saya sering menyesal.. tapi alhamdulillah tidak ada kata kasar yg keluar.. biasanya kalo sudah enek kebangeten saya nyanyi2 di kamar..
      Lagunya Jamrud...
      MACARIN KAMU, GA JAUH BEDA DENGAN MAIN LUDRUK
      PAKE NANYA SILSILAH, GOLONGAN DARAH, NINGRAT ATAU UMUM

      Delete
  6. ini menjadi Catatan Untuk saya pribadi,,, Jangan sampai keluar kata2 dari mulut kita yang akan membuat kita menyesal nantinya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. yap.. betul itu.. semoga... bismillah..

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...