Thursday, 19 February 2015

#SundaySharing14 - Jalan-jalan Berwawasan Lingkungan dan Budaya

Assalaamu'alaikum... ^_^

Saat saya tahu dari Sian Hwa kalau tema #SundaySharing14 kali ini adalah travelling, saya langsung bilang "Saya ikut". Kenapa? Karena tahun 2015 ini saya berencana untuk wisata stasiun, dan rasanya pas banget dengan tema #SundaySharing14 yakni "Jalan-jalan Berwawasan Lingkungan dan Budaya". Pembicaranya pun adalah seorang travel writer kondang, Teguh Sudarisman. Jujur banget, saya ingin sekali tahu apa saja yang diperlukan ketika travelling, sisi apa saja yang harus diangkat/disorot, dan bagaimana cara menuliskan perjalanan kita sehingga menjadi satu kisah yang menarik untuk dibaca, bahkan kalau bisa menggugah orang lain berkunjung ke tempat yang saya tulis :).

Dan tepat sekali, hari Minggu (15/2/2015) saya datang ke Gedung Aldevco Octagon, kantornya blogdetik. Karena semua keingintahuan saya tersebut terjawab oleh mas Teguh.


Teguh Sudarisman di #SundaySharing14 (sumber gambar: Fanpage Blogdetik)
Apa saja yang perlu disiapkan untuk travelling?
Persiapannya ada banyak sebenarnya, namun karena saya hanya akan berkeliling Jakarta, maka persiapannya saya buat simpel seperti kata mas Teguh.
  • keingintahuan tentang obyek yang akan dikunjungi
  • kemauan untuk travelling
  • kecintaan untuk berbagi
  • mencari tahu tempat-tempat menarik lainnya di sekitar tujuan utama
  • voice recorder, berarti akan ada wawancara (berarti saya harus meningkatkan kemampuan bersosialisasi saya, :)) Wawancara dilakukan bisa dengan siapa saja, dan diusahakan menggunakan bahasa yang santai, laiknya kita sedang ngobrol.
  • notes dan pulpen untuk mencatat semuanya, dari lama perjalanan, transportasi menuju tempat tersebut, daerah yang dilewati, informasi yang didapat di tempat tujuan, hasil wawancara dengan narasumber. Pokoknya semua hal sebisa mungkin jangan dilewatkan.
  • kamera dan tripod. Penting sekali bagi seorang traveller dan travel writer untuk mengabadikan obyek dan momen/peristiwa pada tempat tujuan.
  • Handphone dan powerbank/charger. Saat ini, handphone (HP) sudah sangat banyak fungsinya, tapi kata mas Teguh, jangan semua fungsi perekam suara, notes, kamera dijalankan semua oleh HP.
Mas Teguh bilang, dia dulu tidak bisa fotografi dan menulis, tapi dia tidak kenal lelah untuk belajar, mencoba, belajar lagi, mencoba lagi hingga akhirnya bisa seperti sekarang ini, seorang travel writer yang diperhitungkan kemampuannya.

Apa saja yang disorot/diceritakan dalam travelling?
Kalau kita mau mengeksplore hal-hal yang sudah biasa diangkat dari tempat tujuan kita, itu sah-sah saja. Namun, selipkan juga hal-hal unik dan menarik lainnya yang tidak biasa diangkat oleh media. Mas Teguh mencontohkan, jika media sudah banyak sekali mengangkat tentang motif batik, batik tulis dan barang-barang yang bisa dibuat dari kain batik, kenapa kita tidak mengangkat cara pembuatan cap batiknya? Atau contoh lain kalau orang sudah sering menyoroti keindahan pantai-pantai di Indonesia, bisalah sedikit menyelipkan tentang oleh-oleh khas pantai seharga 1000 rupiah dan pengaruhnya bagi ekonomi masyarakat pantai. Jadi, intinya, seorang travel writer itu harus jeli/peka dengan semua keindahan tempat tujuan, dan peristiwa-peristiwa lain di sekitar tempat tujuan. Oke.. oke saya manggut-manggut mencatat rencana hal-hal yang mau saya kupas di wisata stasiun saya nanti :).

Bagaimana menuliskan perjalanan kita menjadi cerita yang menarik?
Kalau yang ini butuh latihan terus menerus. Kata mas Teguh, ceritakanlah peristiwa yang terjadi di tempat tujuan dan ceritakanlah tempat tujuan kita. Boleh menyelipkan cerita perjalanan kita menuju tempat tujuan tapi jangan sampai menjadi 2 paragraf sendiri, mengalahkan cerita intinya. Oke sip...saya catat.

Untuk bisa memraktikkan semua itu, maka ...MULAILAH TRAVELLING... Travelling dulu di tempat yang dekat dengan kita, potretlah hal-hal yang menarik, tulis ceritanya, kemudian publish di media seperti Facebook, blog, atau kalau mau kirim ke media cetak seperti koran, tabloid, majalah travelling, atau majalah penerbangan. Jangan patah arang jika ditolak atau tidak diterbitkan. Cari kesalahannya, pelajari karakteristik tulisan di setiap media, eksplore obyek lagi, potret lagi, tulis lagi, kirim lagi. Dan, tahu nggak kalau mas Teguh itu, sekali jalan (gratis) dia bisa mengirimkan sampai 3 tulisan dengan obyek yang sama, tapi gaya penulisan yang berbeda. Kalau satu tulisan diapresiasi Rp 750.000, berarti 3 tulisan sudah berapa??

Akkkk... ampun DJ... jadi tambah semangat bangggeeettt buat travelling trus menuliskannya. Terimakasih #SundaySharing14, mas Teguh Sudarisman, blogdetik, Sian Hwa, saya jadi semakin mantap untuk wisata stasiun tahun ini :).



2 comments:

  1. Wiih 3 tulisan untuk satu tempat wisata? *mata ijo
    Keren ya mak, berarti saya kudu banyak berlatih nulis ttg travelling nih :)

    ReplyDelete
  2. Ulasannya mantab banged bu, jadi pengen join juga klo dibolehin ^^

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...