Monday, 5 May 2014

Kalau Kamu, Masihkah Cinta?

Masihkah cinta? (kredit)

Tadi sore sekitar jam 16.00 WIB, seorang teman kerja saya izin mengantarkan istrinya sampai ke stasiun. Saya melihat mereka dari dalam (karena bagian luar kantor berkaca lebar), melihat raut kegembiraan sang istri dan tatapan sang suami yang seolah ingin mengatakan bahwa "saya mau melakukan apa saja untuk buatmu bahagia". 

Tatapan itu saudara-saudara berhasil membuat saya kemudian tiba-tiba bertanya pada teman di sebelah saya, "Mba, Mas DinDon (semua nama, saya samarkan) tampaknya cinta banget ya dengan istrinya." Teman saya tertawa, "iya padahal kan mereka sudah punya satu anak", lanjut saya. Si mbak kemudian menjawab "Ya, saya enggak tahu mba, tapi kata ayah saya, ketika seorang laki-laki baik sudah lama berumah tangga, mereka bukan hanya cinta tetapi juga hormat dengan istrinya" "Coba tanya Pak Samsul tuh yang anaknya sudah 4.".

Pak Samsul, seorang office boy berumur sekitar 45 - 50 tahunan, saya tanya, "Pak, maaf, kalau Bapak masih cinta enggak dengan istri Bapak sebesar cinta Bapak dulu sewaktu melamar dia?". Eh.. si Bapak Samsul malah langsung menjawab dengan jawaban yang membuat saya dan teman saya tersenyum simpul dan jleb. "Terus terang Mba, saya itu semakin hari selalu bertambah sayang dengan istri saya. Walaupun kami sering bertengkar, tapi sayang saya tidak berkurang". So sweet banget enggak sih Pak Samsul? Apakah jangan-jangan kebanyakan nonton sinetron??

Bukan tanpa sebab lho sebetulnya saya bertanya seperti itu. Usia pernikahan saya yang masih batita kata orang masih dalam masa senang (bismillah semoga masa senangnya bisa kekal sampai akhirat.. amiiin..), ujian rumah tangga akan datang setelah usia itu. Benarkah?? Karena akhir-akhir ini saya membaca berita dari sebuah tabloid yang dibawa teman kantor, tentang perceraian yang terjadi di usia pernikahan mereka sama seperti usia pernikahan saya dan suami, bahkan lebih muda lagi. Apakah karena mereka sudah tidak saling cinta lagi?

Lantas, bagaimana sih caranya mempertahankan rasa cinta kita kepada suami atau istri kita? Bagaimana sih caranya agar cinta itu tetap ada seperti cintanya Nabi Muhammad terhadap Siti Khadijah, terhadap Aisyah dan istri-istrinya yang lain, yang sama besar dan tidak berkurang sedikitpun?

Maaf.. postingan ini sedikit galau dan hampir tanpa solusi, karena saya dan suami hanya berusaha untuk berkomunikasi secara sehat sebanyak-banyaknya dan selalu memandang wajahnya selekat-lekatnya, itu usaha saya untuk tetap mencintainya.

Teman, kalau kamu, masihkah cinta?

8 comments:

  1. Aku pengen punya suami yg ky gt ih jd sedih #loh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang selalu cinta sama kamu ya ... amiiin.. :)

      Delete
  2. Kata ibuku, yang penting sll berpikir positif trhadap pasangan dan sering sharing. Kelak, akan bahagia selamanya.

    Bahagia selalu ya, Mba. Kayak pak Samsul tuh. :)


    ReplyDelete
    Replies
    1. amiiin.. bismillah semoga bisa... :) terimakasih dek.. :)

      Delete
  3. Cinta harus dipupuk dan disirami agar tetap segar dan subur
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul PakDhe... terimakasih pakdhe sudah membuat postingan tentang "Pupuk Cinta" :)

      Delete
  4. Kalo saya siy, bulan depan genap 4 tahun nikah. Dari hari ke hari, makin ngerasa cinta ke suami, walo tetep aja kadang ada tengkar2 hebatnya. Hehe... Btw, Mak Riski udah nikah berapa tahun ya? #jadikepo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eaaa... lama juga ya Mbak.. saya baru 2 tahun setengah. Hehe saya masih piyik ya.. :)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...