Monday, 26 January 2015

Menyiapkan Pengaturan Keuangan setelah Menikah

Assalaamu'alaikum.. ^_^

mengatur keuangan setelah menikah
Sejak 2011, saya sudah berganti status dari single menjadi istri (tapi sampai sekarang belum jadi ibu.. :)), hehe... *ini pembukaan yang sangat penting*. Sebagai perempuan yang sudah berganti status, kok anehnya saya makin sering mendengar dan membaca, wanita lain yang berstatus sama dengan saya, mengeluh tentang keadaan keuangan mereka. Ada yang dia merasa boros, ada yang suaminya suka ngemil, atau di tengah bulan uang mereka sudah menipis, ada yang bilang belum bisa menabung, ada yang sampai harus pindah rumah karena dikejar debt collector, dan masih banyak lagi. Ada beberapa masalah keuangan rumah tangga mereka yang hampir sama dengan yang saya alami, tapi alhamdulillah tidak terlalu serius *tidak ada adegan kejar-kejaran dan semoga tidak pernah ada*.

Setelah menikah, tidak dipungkiri lagi bahwa kebutuhan kita akan bertambah. Dari yang tadinya hanya satu orang menjadi dua orang. Beberapa hari yang lalu, saya berbincang dengan suami tentang alasan pengaturan keuangan yang sekarang kami jalani. Sebetulnya, beberapa bulan sebelum kami menikah, kami sudah memutuskan sistem pengaturan keuangan yang akan kami lakukan setelah menikah. Kami menggunakan sistem pembagian tugas dan alhamdulillah sampai sekarang masih berjalan dan baik-baik sajaaaa... *nyanyi lagunya Ophie Andaresta*.

Kenali Karakter Keuangan Pasangan
Menurut saya, langkah ini penting sekali dilakukan, agar kita bisa mengambil langkah selanjutnya. Karakter keuangan itu seperti hemat atau boros, mudah tergiur atau tidak, sangat suka membelanjakan uang untuk apa. Langkah ini diambil untuk menentukan siapa yang nantinya akan mengelola keuangan dan bentuk pembagian pengaturan keuangan. Semisal baru beberapa bulan kenal dan belum mengerti penuh, kita bisa sedikit bertanya pada sahabatnya, atau bisa dengan menyerahkan 30-50% penghasilan untuk dikelola olehnya selama 2-3 bulan. Dulu, saya boros sekali. Borosnya bisa kok dilihat, hehe.. saya suka membelanjakan uang untuk mencoba berbagai jenis makanan. Jadi diawal pernikahan, saya hanya diberi berapa persen dari pendapatan suami untuk saya kelola. Itu pun hanya untuk kebutuhan sehari-hari. Hanya berjalan selama 2 bulan, dan hasilnya masih nihil, hehehe.. Akhirnya kami memperoleh kesepakatan pengelolaan keuangan dengan pembagian tugas. Maksudnya, saya dari pendapatan saya akan mengelola pos keuangan apa saja, dan suami dengan pendapatannya bertugas mengelola pos keuangan apa saja.

Bicarakan Pengaturan Keuangan ini sebelum Menikah
Untuk mengatur keuangan pasca menikah sebaiknya dibicarakan sebelum menikah. Tapi, anehnya masih banyak yang merasa tabu membicarakannya sebelum menikah. Padahal, akan sangat membantu sekali mencapai kesepakatan. Apa saja yang dibicarakan? Dulu, saya dan calon suami membicarakan tentang sumber pemasukan, apakah hanya dari suami ataukah dari kami berdua. Artinya, apakah suami saja yang bekerja, atau kami berdua sama-sama bekerja. Kedua, tentang yang mengatur keuangan, apakah istri saja atau dipegang masing-masing?. Ketiga, pembagian pengaturan keuangan, apakah semuanya diserahkan ke istri, atau yang diserahkan ke istri sudah penghasilan bersih hanya untuk kepentingan rumah tangga, atau dengan persentase (suami menanggung apa saja, istri menanggung apa saja). Dan yang keempat, tentang tabungan dan asuransi, apakah akan ada tabungan bersama, atau suami yang menabung, atau istri yang menabung, ataukah keduanya menabung tapi terpisah? Kalau saya dan suami ada tabungan bersama yang diperuntukkan untuk persiapan kedatangan dan kehidupan anak.

Jujur tentang Kondisi Keuangan pada Pasangan
Ya, saya setuju dengan ini. Jujur tentang kondisi keuangan kita pada pasangan sangatlah penting. Mulai dari pendapatan yang biasanya kita terima setiap bulan/hari, sumber pendapatan, dan hutang yang masih berjalan. Karena hal-hal tersebut adalah kunci dari pengaturan keuangan yang akan dilaksanakan. Namun lagi-lagi, balik ke poin pertama, mengenali karakter keuangan pasangan.

Suami Istri adalah Satu Tim
Kalau berhubungan dengan keuangan rumah tangga, suami istri harus selalu kompak. Jangan sampai karena si suami merasa sudah menyerahkan seluruh pendapatannya ke istri, maka sang istrilah yang wajib jungkir balik mengelola keuangan rumah tangganya (ini pernah saya lihat di drama Korea, tapi sayang saya lupa judulnya :)). Saya selalu membicarakan rencana pengeluaran dengan suami. Tentunya pengeluaran yang di luar dari biasanya atau pengeluaran yang membutuhkan dana besar, alhamdulillah kami selalu menemukan solusinya :).

Bersama-sama Membuat Tujuan Keuangan
Hehehe... kalimatnya aneh ya, maaf ini karena saya bukan orang finansial. Tahun pertama pernikahan, kami belum mempunyai tujuan keuangan, hehe.. yang ini nggak benar, jangan ditiru. Baru setelah itu, kami membicarakannya, seperti bagaimana jika nanti hadir anak, akan beli tanah pada tahun berapa, bangun rumah di tahun berapa. Dengan menetapkan tujuan bersama, kami bisa merencanakan berapa persen dari pendapatan kami yang masuk ke tabungan berjangka, apakah akan berinvestasi, ataukah menambah pekerjaan agar penghasilan ikut naik.

Intinya sih komunikasi dan besar hati. Besar hati menerima bahwa tidak semua keinginan kita akan terpenuhi. Setelah menikah, yang paling penting adalah mendahulukan kebutuhan. Saya membagi postingan ini bukan berarti saya sekarang sudah sekaya dan seberhasil Pak Ciputra atau Bill Gates, saya hanya ingin share pengalaman. Karena masalah keuangan adalah masalah yang sangat sensitif dalam rumah tangga. Ada yang berpisah bahkan ada yang sampai bunuh diri karena masalah keuangan, naudzubillah... Jangan sampai terjadi pada kita dan orang-orang di sekeliling kita, aamiiin...

20 comments:

  1. Iya, ngurus keuangan dengan pasangan dan bersikap terbuka itu wajib hukumnya. Tulisannya inspiratif nih mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul Mba, karna akan berdampak pada anggaran yang kita buat :).

      Delete
  2. Tiga point terakhir itu yang sedang dan sudah kami lakukan mbak.. Saya menikah pada bulan Oktober lalu, dan alhamdulillah masih stabil.. :)

    Salam hangat dari Bondowoso..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, semoga terus stabil dan bahkan meningkat ya mas.. :)

      Delete
  3. Nice share maak, lumayan buat saya yang masih belum nikah tapi sang kekasih udah bahas pengen nikah mulu wkwkwk, jadi ada masukan ini buat menghadapi keuangan stlah menikah nanti hihi ^_^

    Xoxo
    http://leeviahan.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe... iya sama-sama. Yang penting komunikasikan terus sama calonnya ya Mba... :)

      Delete
  4. wah,kitanikahnya di tahun yang sama 2011,yeay...^^
    kalo aku keuangangan boros itu pas di batam,sering jalan dan makan di luar hehe. sekarnag pas tinggal di pelosok alhamdulillah bisa ngatur keunagan dengan baik,beda banget sama di batam,apa aja ada hehehe.dan itu berpengaruh ...mksh mbak tipsnya^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah makanya MbaK Hana, saya waktu itu nggak bisa datang ke nikahanmu.. hehe.
      he eh Mbak, keadaanlah yang memaksa kita harus bertahan hidup. Makanya itu, menetapkan tujuan keuangan itu sangat penting. Semoga tujuan keuangannya Mbak Hana dan suami dapat segera tercapai, amiin. :)

      Delete
  5. makasih mbak sharingnya, bermanfaat sekali :)

    ReplyDelete
  6. Makasih mak tipsnya. Emang beda keuangan single sama yang sudah berkeluarga yak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama... :) Iya, beda banget. banyak yang harus dipersiapkan.. :)

      Delete
  7. Setuju Mba.
    Saya pun begitu selalu terbuka dgn suami meski sy IRT.
    Alhamdulillah, suami jg open bgt soal apapun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Memang iya sih ya Mbak, komunikasi dua arah dan terbuka itu penting banget.. Biar tidak terjadi misskomunikasi nanti atau beda pendapat yg telat.. :)

      Delete
  8. Cocok buat semua orang yang takut menikah alasan keuangan, dengan membaca artikel ini kita dapat memanage finance bersama pasangan...

    Salam kenal dari Pulau Dollar

    ReplyDelete
    Replies
    1. ketakutan itu sebetulnya maya/nggak nyata, hehe. Kalau dipersiapkan betul2, dan terjalin komunikasi yang baik dari 2 pihak, pernikahan itu adalah surga di dunia, kan Mas Zaini.. :)
      Salam balik.. :)

      Delete
  9. waaah, ini penting bangeeet nih, mumpung belum berkeluarga..
    iya sih, kadang suka ngerasa gimana gitu kalo ngomongin keuangan sebelum nikah, tapi mah penting juga ya ternyata, nanti nyoba deh kalau udah ada calonnya *ehh

    makasih teeh, tips2nya, saya inget2 :D
    Oiya, semoga segera dikasih momongan yah ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. He eh, mumpung belum berkeluarga, komunikasikan dengan calonnya. Soalnya masalah keuangan itu sensitif banget. Jadi, nanti kalau sudah berkeluarga, tinggal maju jalan saja dengan rencana semula.
      Kalau nggak enak, ngomongnya baik2. Saya dulu ngomongnya, "Nanti kalau sudah menikah, kamu maunya yang pegang uang, siapa?" itu pertanyaan awal sih, selanjutnya ya selanjutnya, hehehe....

      Sama-sama Ranii, terimakasih juga doanya, semoga terkabul, amiin.

      Delete
  10. Saya walaupun udah menikah hampir 5 tahun, tetep berasa masih 'berantakan' pengelolaan keuangannya nih.. Thanks for sharing Mak, bermanfaat banget :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba mulai dari awal lagi, Mbak. Mulai omong2an dg suami, bagaimana baiknya... :)
      Semoga nggak berantakan lg ya.. :) amiin.

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...