Monday, 2 June 2014

Hanya Dia


"Saya terima nikah dan kawinnya Riski Fitriasari binti ..... dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"

Hanya pada saat ijab qobul itulah jantung saya berdetak sangat kencang seperti saat naik kora-kora. Hanya pada saat itu setelah 8 tahun taaruf dan tiga bulan mempersiapkan pernikahan bersama-sama.

Dia yang membaca qobul itu adalah laki-laki biasa yang menurutnya dia itu tidak romantis. Laki-laki yang berfikir sangat sederhana, bahwa hidup itu harus dijalani dengan sepenuh hati, menerima apa adanya, kalau tidak suka ya berusaha lebih keras. Dulu dia itu adalah kakak kelas saya waktu SMA, tapi terpaut jauh. Dia kakak pembina pramuka saya dulu waktu SMA. Berawal dari sering adu argumentasi saat latihan ataupun perkemahan pramuka, saya jadi sering berurusan dengannya. Kami sama-sama pernah bilang "Dia, jodoh saya.. nggak deh" Hehehehe... Sekali-kali jangan pernah bilang seperti itu ya.

Waktu itu ketika saya kelas 3 SMA, beberapa bulan mendekati Ujian Nasional, dia ke rumah saya ingin bertemu dengan ibu atau ayah saya. Wow.. saya kaget dong ya, apa salah saya, waktu itu kami sudah dekat dan jarang bertengkar (ingat.. jarang ya). Ternyata dia ingin bilang kalau ehem... tutup muka maluuuuu.... "Bu, saya serius suka dengan Riski, saya akan menunggu dia sampai tercapai cita-citanya, dan tolong kalau ada yang melamar dia, saya diberi tahu dan dia  diberi tahu kalau saya sudah meminta Riski duluan". Kata-kata itu tidak pernah saya lupakan, walaupun bukan resmi melamar tapi ada perasaan senang, kaget dan lho.. bukannya dia itu tidak suka saya. Oalah ternyata selama ini sinyal itu ada pada sebatang coklat yang setiap hari Kamis dia beri ke saya lewat keponakannya toh, hehehe.

Setelah peristiwa itu, dia berangkat ke Jakarta untuk bekerja di tempat saudaranya, dan beberapa bulan kemudian saya lulus SMA serta alhamdulillah diterima di UNNES. Jarak yang menurut saya jauh apalagi saya belum mempunyai HP. Setiap minggu, kami berkirim surat (suratnya masih saya simpan di rumah). Di satu surat saya pernah mengatakan padanya kalau semisal dia ingin menjalin hubungan dengan perempuan lain di Jakarta, silahkan saja, saya tidak mau ada rahasia. Saya sering mendengar tentang perselingkuhan karena hubungan jarak jauh, dan lagi pula saya dan dia belum menikah saat itu, jadi saya pikir sah-sah saja kalau dia menjalin hubungan dengan wanita lain di Jakarta. Tapi, balasannya membuat saya klepek-klepek tidak mau melirik lelaki lain... "Saya di sini sedang mencari bekal lahir batin untuk membahagiakan satu hati wanita yang sudah saya minta, masa di sini saya harus menyakiti hati wanita lain?" (ini kata dia tidak romantis? dikeplak coklat).

Di tahun keempat saya kuliah, sayan diserang sindrom skripsi akut, keengganan untuk menggarap skripsi dan ketakutan saat ingin berkonsultasi dengan dosen pembimbing (dosbing). Sekali berganti dosbing, berkali-kali ganti judul skripsi, sekali berganti metode penelitian dan metode pembelajaran, membuat saya akhirnya mandeg mengerjakan skripsi. Temperamen saya pun bertambah hitam gelap. Saya sering marah-marah parah, membanting barang-barang di kasur, kecanduan games di komputer, dan sensitif sekali merasa saya tidak berguna. Si dia pun terkena dampaknya, kalau sedang telepon pasti saya marah-marah lantas menangis. Berbagai cara dia lakukan mulai dari menghibur saya, menyuruh saya lebih dekat dengan Allah, meminta teman saya menghibur saya, sampai pernah datang ke kos saya di Semarang hanya karena ingin menghibur saya dan memperlihatkan foto orang tua saya saja. Dari situ akhirnya saya sadar bahwa untuk sampai pada tahap itu, saya sudah berusaha sekuat tenaga selama 12 tahun di sekolah dan orang tua saya sudah berbuat sangat banyak untuk saya. Saya tidak mau mengecewakan orang tua saya dan diri saya sendiri. Alhamdulillah saya berhasil lulus di semester 13 (satu semester lagi kalau saya tidak lulus skripsi, saya di DO).

Walaupun sepertinya ini adalah cerita biasa, tapi bagi saya ini adalah cinta monumentalnya. Dengan jarak yang memisahkan, delapan tahun taarufan, hanya bertemu saat lebaran, dengan temperamen saya yang super egois, dia bisa membuktikan kalau dia setia dan menepati janjinya ke Ibu saya dan saya. Setelah menikahpun, kesederhanaannya memaknai hidup membuat saya bersemangat untuk terus hidup di sampingnya, kesediaannya menerima kekurangan dan kelebihan saya membuat saya juga ikhlas menerima kelebihan dan kekurangannya. Dia yang sekarang menjadi suami saya bukan teman ataupun partner hidup, hanya dia. Bismillah semoga dialah laki-laki yang dipilihkan Allah untuk menjadi suami saya dunia akhirat, amiiin.

21 comments:

  1. HUaaaaa, jujur looh, ini cerita paling eheeeem...asiiik dan romantis bangeeet. Sebuah cinta yang dikokohkan pasti dengan nama Allah... Barokaaah yaa Maak untuk pernikahannya. Sukses juga kontesnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaaa... langsung dapat komentar.. terimakasih doanya Mak Astin.. amiiin ya robbal'alamiin

      Delete
  2. Amin, langgeng ya Mak ...

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. iya sekitaran segitu.. tapi ada yg lebih lama sebetulnya.. :)

      Delete
  4. Wah keren mbak ... Langgeng terus ya mbak... Sukses juga untuk GA nya ^_^

    Salam hangat tanpa gosong dari Jogja ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiiin ya robbal'alamiin.. hehehehe.. kalo gosong jadi intip/kerak dong.. :)

      Delete
  5. Tak banyak pria yang setia, patut diacungi jempol. semoga samawa sampai hari tua. amin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. itulah makanya saya hormat sekali sama dia

      Delete
  6. Wah, ini romantis banget ya langsung ketemu gitu sama orang tuanyaaaaaa. Semoga terus langgeng bersama-sama sampai kapan-kapan ya :))

    ReplyDelete
  7. Buat pembelajaran bagi pasangan LDR ya, mak. Romantis banget. Dan salut atas segala rintangan dan usaha yang sudah dilewati. Langgeng, mak. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Allah tidak akan memberikan cobaan yg melebihi kemampuan makhlukNya.. :)

      Delete
  8. Membaca kisah kakak saya menjadi merinding, kagum, dan ikut deg degan..
    Begitu indahnya ya sebuah perjalan dari mengenal sampai ke pelaminan. Perjalanannya itu lho yang bikin indah.. cinta ya saya kira sama saja dan tetap saja ia “cinta”. Yang bikin serru perjalanan menggapai cinta. Wuih... selamat ya kak....

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya selalu di perjalanan lah saat-saat paling seru dan asyik.. :)

      Delete
  9. Jangan dorong, Mbak... ntar jatoh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wong itu saya yg lagi keberatan Mbak, ndorong dia ga geser seinchi pun.. T_T

      Delete
  10. sweet love story...jodoh memang selalu yang terbaik dari-Nya ya...makasih sudah ikutan dan salam Cimoners...

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiiin.. Sama2 Mbak Indah.. :) Terimakasih juga sudah mengadakan GA ini :)

      Delete
  11. mbakkkk aku terharuu bacanyaaanyaa..jarang banget pria yang setia sampai nemenin di masa yang kelam..ternyata masih ada ya pria yang baik..hikssss..

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...